Artikel — October 30, 2011 3:56 pm

IHWAL SEBUAH KEKACAUAN

Posted by

Dalam kerusuhan London baru-baru lalu, sesaat setelah membakar separuh kota, seorang perusuh anonim yang diwawancarai stasiun TV Inggris berkata dengan tajam, “Dua bulan lalu, saat kami berbaris rapi dan melakukan aksi damai menyampaikan apa tuntutan kami, tak satupun dari kalian memberitakan. Kini setelah ini semua menyala dan terbakar, barulah kalian datang pada kami, mewawancarai kami, bicara pada kami!”

Anak muda itu sebenarnya hendak mengatakan bahwa dalam masyarakat yang penuh keterasingan ini, kadangkala dibutuhkan kejutan sekaligus cara-cara yang mengejutkan, untuk bisa mulai berkomunikasi. Para perusuh memilih caranya. Para polisi dan orang kaya memiliki penangkalnya.

Dan kita pun tahu, api London menyebar dan menjilat-jilat ke wilayah sekitarnya.

 

ADALAH HAL YANG LAZIM BAHWA KERUSUHAN dan seluruh hal yang bertaut dengan kekacauan otomatis akan ditolak dan dicemooh. Masyarakat senantiasa meyakini bahwa sebuah kekacauan hanya memiliki satu-satunya potensi : merusak. Dengan kata lain, sebuah situasi yang tak lazim dan ekstrim mustahil menjadi oase di padang gersang.

Kerusuhan, penghancuran properti atau perlawanan secara radikal terhadap sistem politik mapan justru adalah hal yang terlalu mahal untuk dipertukarkan dengan seluruh kenyaman hidup yang tersedia di tengah-tengah masyarakat modern hari ini. Ini adalah patologis! Mabuk kepayang oleh kesenangan material.

Dalam setiap kejadian-kejadian serupa, para jurnalis, akademisi dan budayawan bersekongkol dengan orang-orang kaya dan aparatus kekuasaan untuk memperjuangkan satu hal : ketenangan!

Ketenangan selalu diasosiasikan dengan kedamaian, lalu diperhadap-hadapkan dengan kondisi kacau balau dimana, dikte mereka, situasi kisruh siap melumat ketenangan yang selama ini kita nikmati. Lalu kita pun niscaya akan tersedot dalam pusaran ketidakmenentuan, kebingungan, atau kemungkinan untuk terhempas dalam situasi yang lebih buruk dan traumatis.

Tapi mana mungkin situasi yang tidak sebangun itu bisa diperbandingkan?

Dalam sebuah ketenangan yang palsu –yang berusaha keras dipertahankan oleh orang-orang yang lelah dan lemah, tidak ada jaminan bahwa kualitas hidup dapat berbarengan dengan stabilitas kondisi harian. Tidak ada garansi bahwa hal tersebut mengandung kedamaian dan kedalaman maknawi dari hidup harian.

Karenanya, kekacauan adalah momok bagi masyarakat mapan. Ia menjadi hantu atau sundal yang diburu dengan mantra atau jampi-jampi hukum. Ia mesti dibunuh bahkan jika perlu seturut dengan bayangannya. Berdiri dalam posisi ini, kita ibarat ‘membuang air mandi bersama dengan bayinya’. Kita justru kehilangan kesempatan yang sangat bagus!

Tentu saja mengusung sebuah kekacauan bukanlah ‘program politik’ yang strategis, kalau tidak bisa dikatakan tidak realistis, dikarenakan tipologinya yang spontan dan alamiah. Akan tetapi mempertahankan status quo termasuk yang dianggap alternatifnya yang palsu adalah jauh lebih kisruh, lebih kacau dan lebih banal ketimbang kekalahan yang bisa saja mendera dalam mencari sesuatu yang betul-betul baru dan berbeda.

Kita jelas-jelas butuh terobosan, perlu ‘lompatan jauh ke depan’!

 

SEBUAH TEORI RADIKAL BUKANLAH TEORI TENTANG MASYARAKAT, melainkan sebaliknya: sebagai teori melawan masyarakat. Melawan kepasrahan, kelemahan dan ketakutan yang bersemayam dalam diri setiap orang. Melawan setiap tampilan-tampilan yang menjebak dan seluruh tawaran yang tidak berbeda. Kita tidak bisa damai dalam sebuah ancaman permanen dimana kita tidak memiliki daya dan kuasa merubah situasi. Kita tidak bisa berlindung di bawah sesuatu yang mengerikan. Tidakkah ini menisbikan teori canggih, selain hanya naluri yang tajam?

Untuk itu kita butuh sebuah guncangan yang mempercepat keruntuhan dan mempermudah kita melihat apa yang selanjutnya perlu dilakukan.

Kita butuh lebih dari sekedar teori! Kita butuh chaos. Itu pasti!

Chaos yang bukan (hanya) dalam pengertian paling sempit : konfrontasi fisik dengan aparatus negara, melainkan chaos sebagai interupsi tidak lazim terhadap stabilitas, resistensi tanpa ampun terhadap kungkungan, dan rekonstruksi tanpa akhir terhadap kondisi-kondisi ideal yang mapan.

Kita membutuhkannya… karena kita tidak bisa menghindarinya.

Chaos adalah energi potensial layaknya sebongkah batu di ketinggian menjulang, sebuah situasi yang tidak terkendali untuk mengasah kemampuan dasar kita agar bisa ‘berdiri bersama dunia’ –bukannya ada di dalamnya. Dan kondisi kisruh yang ditakuti banyak orang bukanlah tanpa tepi melainkan ia hanya terspiral keluar dan sepenuhnya bergantung pada energi yang menyulutnya, untuk sampai pada posisi equilibrium.

Karena pada dasarnya kita memiliki kemampuan merekonstruksi kembali dunia kita, kehidupan kita yang lebih baik dari sekarang, kehidupan seperti yang kita hasrati, lalu mengapa kita harus takut dan sembunyi? Mengapa menghindar atau berkelit? Mengapa tidak keluar menghadapinya, berbarengan dengan usaha memperkuat diri untuk bisa melihat kesempatan dalam menata kembali dari puing-puing dunia lama?

‘Rasa takut adalah ibu kandung moralitas’, kata seseorang di masa lampau. Tapi pula bukankah ‘rasa takut adalah seni’, kata musisi rock pembual dekade ini. Karenanya kita tidak bisa menghilangkan kesempatan dalam situasi-situasi yang tak terduga, hanya karena kehilangan racikan yang tepat antara kesempatan dan momentum.

Saat perang sipil tahun 1870, Bakunin menuliskan, “Mengapa kita harus takut dengan perang sipil? Toh, perang justru menajamkan insting kita. Cepat atau lambat ia akan berakhir. Dan di luar situasi kacau, perang dan kekejian manusia, disana tertanam kemungkinan untuk membangun masyarakat yang berbeda, sebuah masa depan yang berbeda. Jadi, tak ada yang perlu ditakutkan.”

Ya… tak ada!

Print Friendly Print Get a PDF version of this webpage PDF

Tweet
Tags: anarki chaos kerusuhan
  • Share this post:

2 Comments

Leave a Reply

— required *

— required *

Load Times Plugin made by Cheap Web Hosting