Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

TETAP BERTAHAN TANPA MAJIKAN

November 14, 2010 by Kontinum in Artikel with 1 Comment

Swakelola Pekerja di Argentina setelah 2001

 

 

Meski diterjang krisis inheren kapitalisme dan serangan legal dari negara dan hukum, para pekerja Argentina yang menguasai berbagai perusahaan besar maupun kecil dan mengoperasikannya di bawah kendali pekerja tetap bertahan hingga hari ini. Hampir sepuluh tahun, semenjak gelombang krisis sosial 2001, swakelola pekerja (worker’s self-management) tetap bertahan. Ini menjawab keraguan, baik orang-orang kaya, politisi dan korporat, maupun aktivis Kiri yang pesimis dan sinis akan kemampuan pekerja mengorganisir dirinya tanpa gembala partai politik revolusioner.

Menurut hasil sebuah kajian dari University of Buiness Aires yang dipublikasikan Oktober 2010 baru-baru ini,  dari ribuan perusahaan yang direbut dan dioperasikan secara mandiri tanpa manajemen hirarkis sejak 2001, sekitar 205 di antaranya masih beroperasi hingga kini. Keseluruhan jumlah pekerja mencakup 9.362 orang, dimana lebih dari 161 perusahaan diantaranya mencapai 6.900 pekerja.

Tentu saja ini merupakan sebuah gambaran mencengangkan. Menurut salah seorang peneliti utama dalam riset ini, Andrés Ruggeri, “Hal ini masih merupakan kelanjutan dari fenomena yang muncul sejak 2001 lalu, paska kolapsnya perekonomian Argentina.”

Dalam kajian tersebut peneliti fokus pada pertanyaan: faktor apakah yang menyebabkan fenomena yang muncul hampir satu dekade lampau ini masih berjalan, alih-alih surut mengikuti stabilitas ekonomi di negeri itu?

Salah satu kesimpulannya adalah pekerja belajar dan dengan sendirinya menyadari bahwa menjalankan perusahaan secara mandiri adalah sebuah alternatif yang memungkinkan agar mereka bisa tetap bertahan hidup. Dimana tambah Ruggeri, “sebelumnya hal ini (swakelola pekerja) tidaklah terpikirkan oleh pekerja.”

Swakelola pekerja adalah sebuah cara dalam mengoperasikan sebuah tempat kerja dengan tidak mengenal bos atau majikan, atau sebuah hirarki manajerial yang tetap. Tempat kerja dikelola secara demokratis radikal oleh para pekerjanya sendiri. Demokrasi yang radikal berarti para pekerja tidak butuh untuk memilih seorang manajer yang akan membuatkan keputusan untuk mereka. Tetapi para pekerja sendirilah yang menentukan bagaimana mereka akan melakukan sesuatu dalam sebuah grup. Para pekerja memutuskan sendiri segala aspek yang mereka pilih dan setujui, seperti metode produksi secara umum, penjadwalan, pembagian kerja, upah. Tak seorang pekerja pun dalam tempat kerja yang dikelola secara mandiri, memiliki kontrol atas pekerja yang lainnya. Segala bentuk kekuasaan untuk membuat sebuah keputusan dibagi secara merata kepada seluruh pekerja.

Kebangkitan dan Inspirasi

Dokumen kajian bertitel “Recovered Companies in Argentina 2010”  itu sendiri bertujuan untuk memberikan data dan informasi dalam rangka membantu merancang kebijakan-kebijakan untuk memperkuat dan mengembangkan gerakan swakelola. Kajian tersebut disusun oleh sebuah tim relawan yang terdiri dari banyak mahasiswa Program Terbuka di Universitas Buenos Aires, Argentina. Tim peneliti melakukan survey mendalam pada perusahaan-perusahaan yang diambilalih dan dikendalikan secara mandiri oleh pekerja. Gerakan swakelola di Argentina sendiri muncul sebagai respon kegagalan negara Argentina dalam mengelola ekonomi dan kehidupan sosial. Krisis politik dan kolapsnya ekonomi pada tahun 2001 menyebabkan PHK massal disusul kebangkrutan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan jutaan orang di Argentina.

Bukannya ikut terpuruk, gerakan pekerja yang banyak terpengaruh oleh ide-ide sindikalisme justru membuka kembali dan mengambil alih perusahaan yang tutup karena krisis, memperbaiki manajemennya, dan mengoperasikannya di bawah demokrasi langsung para pekerja. Menurut kajian tersebut, tahun 2002-2003 adalah puncak pembesaran gerakan swakelola pekerja. Ratusan perusahaan berjamuran yang bergerak dalam berbagai bidang, dari pengolahan makanan, logam, tekstil, pakaian, keramik, desain grafis, jasa transportasi, restoran, sektor kesehatan hingga hotel bintang lima.

Bukannya tanpa masalah, belakangan setelah kondisi politik stabil banyak pengusaha yang pulang ke Argentina dan memperkarakan kepemilikan perusahaan lewat jalur hukum. Ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi para pekerja Argentina.

Namun, gerakan swakelola Argentina nyatanya tidak surut dan tetap berkembang. Malahan ini memicu gerakan serupa di tempat lain. Laporan Program Terbuka Universitas Buinos Airess menyebutkan kini setidaknya ada 69 perusahaan di Brazil yang diambilalih oleh pekerja, 30 di Uruguay, 20 di Paraguay dan beberapa lainnya di Venezuela. Ruggeri juga menambahkan, bahwa gerakan ini mulai bermunculan di Spanyol.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, terungkap bahwa perusahaan-perusahaan yang diambil alih lebih banyak yang berskala menengah dan kecil. Sekitar 75 % adalah yang mempekerjakan kurang dari 50 pekerja, dan hanya sedikit yang lebih dari 100 orang pekerja, dan yang lebih dari 200 pekerja hanya 2,3 % dari total keseluruhan.

Kritisisme Terhadap Rekuperasi

Meskipun ada gambaran yang positif dari gerakan ini, namun secara keseluruhan gerakan otonom Argentina sesungguhnya rawan dari koptasi dan rekuperasi negara atau khususnya pemerintahan Kiri yang bercokol.

Pergeseran ke Kiri dalam politik Argentina justru membawa kekhawatiran baru. Menurut seorang aktivis dan jurnalis Benjamin Dangl, pemerintahan Kiri didemobilisasi dan dibeli oleh para kelas menengah. Dalam Dancing With Dynamites, buku yang ditulis Dangl yang menjadi perbincangan hangat mengenai gerakan di Amerika Latin itu, ia mengatakan bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan neoliberal dan struktur kelas di Argentina meskipun secara politis kepemimpinan nasional berhaluan kiri. Termasuk dengan terpilihnya Nestor Kirchner yang dilanjutkan oleh istrinya Cristina.

Oleh karenanya para pekerja di Argentina juga harus mewaspadai upaya-upaya mengintegrasikan kekuatan popular otonom ke dalam kekuasaan negara. Hal ini untuk tidak mengulangi rekuperasi pemerintahan Kiri misalnya, terhadap para revolusioner piquetteros dengan memberikan sogokan politik berupa dana stimulus terhadap proletariat jalanan tersebut, sehingga lambat laun atmosfer revolusioner menghilang tergantikan dengan normalisasi ekonomi dan sosial harian.

Tagged argentina, , swakelola

One Comment

  1. Dodi FaedlullohJun 19, 2011 at 5:00 am

    Ini lah bentuk sejati dari koperasi, bekerjasama tanpa ada pihak dominan yang mengontrol, tidak harus ada, bahkan tidak perlu adanya bos yang senang ‘membunuh’ para pekerja, apalagi negara yang seringkali berkawan baik dengan kelas kapitalis.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !