Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

I TOLOK, BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR

October 23, 2010 by Johan Sitorus in Artikel, Resensi with 0 Comments

Catatan Editor

Sejarah Eropa khususnya Inggris abad XVIII mencatat eksistensi bandit sosial bernama Robin Hood dan kelompoknya yang merampok orang-orang kaya dan para bangsawan yang hasilnya diberi dan dibagikan kepada masyarakat miskin. Eric Hobsbawm dalam Bandit Sosial (2000) menjelaskan bahwa istilah ‘bandit sosial’ kurang lebih merujuk pada para pelanggar hukum yang oleh para raja dan negara dianggap sebagai kriminal, tetapi merupakan oleh masyarakat dianggap sebagai pahlawan, pembela, penuntut balas, pejuang keadilan, bahkan mungkin pemimpin pembebasan da juga orang yang dikagumi, didukung serta dibantu. Sementara Anton Lucas (1989) menyebutkan bahwa kedudukan bandit sosial sangatlah istimewa di masyarakat, dikarenakan kebaikannya dengan merampok dan memeras orang-orang yang dianggap menindas rakyat.

Di Australia kita mengenal tentang Ned Kelly, yang kisahnya juga serupa dengan Robin. Kelly terkenal dengan topeng besinya dan pertempuran heroik melawan kekuasaan yang pada akhirnya menjemput ajalnya. Sementara itu, orang-orang Betawi menceritakan tentang legenda Si Pitung, yang menjadi musuh kompeni karena tindakannya yang menyerang pemerintah kolonial dan melindungi rakyat.

Di Makassar awal abad XX, kisah serupa ada dalam diri I Tolok Dg Magassing. Karena keberanian dan tindak tanduknya yang melegenda, dalam kosakata harian bahasa Makassar, kita mengenal istilah ‘tolok’, ‘tolo’, yang berarti jagoan, pemberani, atau pemimpin informal.

* * *

I TOLOK, BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR
Resensi Buku Tentang Sejarah Perlawanan I Tolok Dg Magassing

 

 

 

Judul Buku : BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR, JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DG MAGASSING
Penulis : M. Nafsar Palallo
Penerbit : Rahyan Intermedia, Makassar
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xi + 129 hlm
Peresensi : Johan Sitorus

 

“… iya karaeng tossitagalaka Balandaya, tumpinawangi balandaya, antisirikai parana tau, kodi ateka nabajikanggi karaeng kualle barang-barangna, nakutumbang masigina, nakugesara langgarana, nakutuddu rimbuna. Nasaba taenaja nakke pattujungku karaeng lanaganti, lakupakangreangi ribija pammanakakungku nikanaya doe sipiring.”

… bagi mereka yang mendukung dan bekerjasama dengan penjajah Belanda, tidak menjaga sirik sesama manusia, yang berhati jahat, maka akan kurampas harta bendanya, kurobohkan mesjidnya, kuhancurkan langgarnya, kuterjang pondoknya. Sebab tiada maksudku mendapat pujian dari raja atau memberi makan keluargaku dengan uang mereka. Tak ingin aku dinilai dengan sepiring nasi … ! (I Tolok Dg Maggasing)

Sulawesi termasuk pulau yang terus bergolak sepanjang pendudukan kolonial zaman Belanda. Mereka menjulukinya de onrust eiland atau ‘pulau keonaran’. Ekspedisi militer pada tahun 1905 menyebabkan peralihan kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal ke tangan Hindia Belanda.

Pembiayaan pelaksanaan pemerintahan kolonial dilakukan dengan cara mengambilalih tanah dari tangan para bangsawan. Secara eksploitatif kekuasaan kolonial kemudian menguras sektor perkebunan dan pertanian. Ini bisa dilihat dengan hadirnya ratusan pabrik gula mengubah pengolahan tanah dari sistem feodal ke arah yang kapitalistik. Rakyat yang sebelumnya hanya melayani kaum bangsawan kini juga harus melayani kebutuhan deru mesin pabrik yang eksploitatif. Hal ini memicu konflik antara rakyat melawan kekuasaan Belanda. Salah satunya mengambil bentuk perbanditan, spontan, tidak terorganisir, tidak terarah, sporadis dan tidak memiliki rencana secara formal.

Munculnya berbagai kelompok-kelompok bandit tersebut disikapi pemerintah kolonial dengan mengerahkan kekuatan militer, yang didasari pada anggapan bahwa karakter masyarakat di daerah ini hanya dapat diperintah dan dikuasai dengan kekuatan senjata.

Strategi ini bukannya menyurutkan perlawanan malah menimbulkan resistensi yang semakin meningkat terhadap pemerintahan kolonial. Penghadangan dan perampokan uang dan harta kompeni dan orang-orang kaya marak terjadi,  adapun hasil perampokan berupa uang atau yang bisa dijadikan uang dibagi-bagikan kepada rakyat kecil yang sangat membutuhkan. Namun banyak juga kelompok yang melakukan perampokan bukan membagikan hasil rampokan tetapi hanya memperkaya diri sendiri. Dan melakukan aksi perampokan dengan tidak pandang bulu.

Gerakan perbanditan yang dimaksudkan dalam buku ini menunjuk pada tindakan yang dilakukan dengan sengaja bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Gerakan rakyat yang muncul dari bawah sebagai ledakan keresahan sosial dan politik saat itu. Suatu bentuk perlawanan penuh kekerasan dengan cara melakukan perampokan, pemerasan serta penyerangan terhadap pihak-pihak musuh atau orang-orang yang bekerjasama dengan musuh. Hal ini untuk membedakannya dengan tindakan perampokan yang dilakukan sebagai mata pencaharian, perampokan yang dilakukan oleh orang-orang yang jenuh dan bosan terhadap keberadaannya atau anak-anak muda yang mencoba menunjukan keberanian dan ketangkasannya.

Salah satu diantara gerakan perlawanan tersebut adalah gerakan yang dipimpin oleh  I Tolok Dg Maggasing pada kurun waktu 1914-1917.  Wilayah pengaruhnya meliputi seluruh Afdeeling Makassar, yang terdiri atas bekas kerajaan Gowa, Takalar, Jeneponto dan sebagian Maros.

Berawal dari perampokan skala kecil dengan kelompok yang beranggotakan enam sampai delapan orang, gerakan I Tolok berkembang menjadi gerakan masyarakat kelas bawah yang melibatkan ratusan orang yang bergerak secara acak dan tak terdeteksi. Sekembali dari aksi perampokan, gerombolan I Tolok kembali ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur menjadi rakyat biasa. Jikapun memilih bersembunyi, masyarakat sekitar akan melindungi mereka dengan tidak memberitahukan informasi apapun pada polisi kolonial yang mencarinya.

Puncak pergolakan sosial terjadi pada tahun 1916 yang mengarahkan penyerangan ke pos-pos pajak pemerintah dan rumah pejabat-pejabat pemerintah bumiputra yang bekerjasama dengan belanda.

Gerakan I Tolok berdampak pada terjadinya huru hara sosial yang terjadi memberi suntikan semangat  bagi perlawanan rakyat dalam menentang kekuasaan hindia belanda. Berbagai tindakan miiliter untuk menumpas gerakan I Tolok mengeluarkan biaya yang tidak sedikit termasuk perlengkapan persenjataan dan pembuatan rel kereta api sepanjang 40 Km untuk menghindari hadangan I Tolok dan gerombolannya. Penghadangan dan perampokan yang dilakukan oleh I Tolok menimbulkan keresahan bagi mereka yang menikmati hasil penjajahan termasuk pejabat dan orang-orang kaya. Pembiayaan pelaksanaan pemerintahan kolonial juga jadi terganggu akibat perampokan pada pos-pos pajak.

Perang lokal akibat ketidakpuasan atas kondisi sosial  seperti yang pernah dilakukan oleh para gerombolan I Tolok seharusnya bergerak ke arah yang akan membawa kita ke perang kelas global. Semenjak kapitalisme telah menancapkan kukunya ke seantero dunia, maka perlawanan terhadap tirani ekonomi ini juga harus mencapai skala internasional. Salah satu contoh paling maju saat ini adalah ketika kaum adat Indian di Meksiko yang menamakan diri mereka Zapatista melancarkan serangan pada malam diberlakukannya NAFTA 1 Januari 1994. Alih-alih terjebak dalam pandangan sempit kesukuan, mereka malah secara terbuka melancarkan perang melawan negara dan kapital dengan senjata dan komunike-komunikenya.

Sistem ini saling berkait satu sama lain, maka perjuangan sekecil apapun akan berdampak pada keseluruhan sistem, di manapun ia mengambil tempat. Tanpa kesadaran untuk meruntuhkan tatanan sosial yang eksis saat ini, maka gerakan dengan mudah terjebak pada hal-hal yang memalukan.

Ini pula yang terjadi pada gerakan I Tolok dan komplotannya yang melawan penjajahan kolonial tapi tidak menegasikan tatanan masyarakat feodal seperti sebelumnya. Para bangsawan yang kalah perang melawan kolonial berangsur-angsur kehilangan hak otonomi dan otoritasnya dalam struktur kekuasaan yang baru. Mereka memanfaatkan banyak aksi perampokan ini untuk kembali ke tampuk kekuasaan. Hal yang menjadi kritik bagi pergerakan para bandit dari Makassar.

I Tolok Daeng Maggasing terbunuh dalam sebuah drama pengkhianatan. Mayatnya dipertontonkan kepada rakyat di tanah kelahirannya dan daerah sekitar untuk mematahkan semangat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun semangat dan kegigihannya menjadi personifikasi bagi perjuangan menentang penjajahan dan ketidakadilan sosial. Bahkan nama I Tolok kemudian menjadi satu kata khusus dalam bahasa Bugis dan Makassar : tolo’ yang berarti “jagoan”!

Tagged bandit sosial, gerakan sosial, i tolok, makassar, sejarah perlawanan

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !