Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

REPORTASE DARI PERINGATAN HARI TANI

September 24, 2010 by Alisa Dita Naimpian in Artikel, Reportase with 0 Comments

Di Makassar, peringatan Hari Tani Nasional 24 September 2010, diselenggarakan dengan demonstrasi damai oleh ratusan petani, mahasiswa, kelompok miskin perkotaan dan aktivis LSM. Partisipan Kontinum melaporkan situasi aksi ini.

 

JAM SEMBILAN PAGI…  hari telah terasa panas. Belum ada tanda-tanda hujan seperti biasanya. Akhir-akhir ini, cuaca yang tidak dapat ditebak dapat berubah drastis dengan seketika.

Meski panas seperti ini, sudah banyak yang berkumpul di bawah fly over. Mayoritas yang kulihat adalah ibu-ibu dari ormas seperti Komite Perjuangan Rakyat Miskin – KPRM, Persatuan Masyarakat Kassi-kassi –  PERKASI, dan selebihnya dari mahasiswa, aktivis LSM, serta organisasi buruh. Polisi juga telah berjaga-jaga, begitu pula para wartawan sudah sibuk mencari angle untuk mengambil gambar layak tayang.

Hari ini adalah peringatan Hari Tani Nasional, 24 September. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu diperingati oleh aktivis dan petani dengan demonstrasi dan kegiatan lain. Tanggal ini di tahun 1960, Undang-undang Pokok Agraria UUPA disahkan. Sejak saat itu, tanggal 24 September dijadikan Hari Tani Nasional. Tahun ini, sudah genap 50 tahun.

Tak lama kemudian seorang ibu menegurku. Melihatnya, saya kembali teringat peristiwa setahun yang lalu.  Tepatnya tanggal 9 Agustus 2009. Hari itu, puluhan petani menjadi sasaran kebrutalan polisi. Ditembaki, dipukuli dan ditangkapi.

Ibu yang menegurku itu adalah satu diantara mereka saat itu. Ia salah satu dari petani Takalar yang telah lebih dari 28 tahun berperang dengan PT. Perkebunan Nusantara XIV. Bersama kawan-kawan petaninya yang lain, mereka bergegas dari Takalar sejak pagi tadi untuk ikut dalam peringatan Hari Tani ini. Mungkin ini momen yang tepat –paling tidak untuk menunjukkan bahwa perjuangan mereka belum berakhir. Perjuangan yang masih membara, pikirku.

Seperti biasa, sambil menunggu peserta aksi lainnya, seseorang yang nampaknya sebagai koordinator aksi memanggil satu persatu perwakilan organisasi memberikan pidato dan orasi. Ini adalah sebuah ritual wajib bagi demonstrasi.

Di barisan depan para ibu merentang sebuah banner besar yang berisi seruan pembaharuan agraria. Sebagian memakai kaos seragam organisasinya masing-masing, ada juga yang membawa properti aksi berupa tanaman seperti ubi kayu, lombok, dan padi. Beberapa olahan makanan tradisional seperti ubi rebus, ketan, dan kue trasisional juga disaji di atas bakul tapisan beras.

Sejumlah peserta aksi lain membawa beberapa plakard bertulis : ‘ayo gunakan pupuk organik’, ‘stop impor beras dan kebijakan yang merugikan petani’, ‘hentikan diskriminasi terhadap petani’, ‘hentikan politisasi beras’.

Lebih dari sejam berkumpul dan berorasi, peserta aksi demonstrasi siap beranjak ke titik aksi selanjutnya: Kantor Gubernuran. Entah dasar apa titik tempat ini selalu menjadi sasaran aksi. Bagi para reformis tempat itu seolah menjadi kuil pengharapan. Ormas-ormas yang terlibat begitu pula peserta aksi lainnya hanya ikut dalam prosedur aksi yang telah ditetapkan: mengikuti komando dari sebuah mobil bak terbuka yang mengangkut orator dari elit organisasi dan menggiring mereka menuju tempat selanjutnya. Tak ada yang berubah, pola yang sama masih dan mapan terus diulang-ulang.

Rombongan akhirnya mulai berjalan sepanjang sekitar 1 km dari tempat fly over, di bawah matahari yang bertambah terik. Beberapa organisasi mahasiswa yang terlambat datang di titik kumpul, langsung masuk bergabung dalam rombongan aksi. Mereka memakai atribut identitas kemahasiswaaan yang lengkap, jas almamater dan bendera. Begitu juga beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus lainnya, warna warni benderanya menghias barisan aksi yang diikuti kurang lebih 200 orang ini.

Sekitar 20 menit, peserta aksi telah sampai di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jl. Urip Sumiharjo. Mengetahui ada rombongan demonstrasi menuju ke tempat itu, pagar depan telah ditutup dan dijaga satuan Perintis Polda Sulsel. Sebagaimana kantor-kantor vital pemerintah lainnya, tempat ini memang selalu mendapat pengamanan khusus di setiap aksi. Tak jarang malah aksi unjuk rasa di tempat ini dibubarkan paksa.

Di depan pagar, peserta aksi hanya berkumpul dan tidak diperbolehkan masuk oleh petugas. Orasi-orasi kembali dimulai lewat masing-masing perwakilan organisasi. Yel-yel dan pidato berkaitan dengan isu agraria, keadilan pangan, serta isu perempuan digaungkan. Yang tak pernah luput juga adalah orasi-orasi dari kelompok Kiri yang mempropagandakan programnya dari atas mobil komando dengan sound system yang menggaung keras.

Di situasi yang lain beberapa orang yang berposisi sebagai tim lobi, menemui petugas dan polisi memasuki areal kantor. Cukup lama, aksi di depan pagar belum ada kejelasan atas keinginan untuk bisa masuk.

Aksi ini kemudian sedikit dihidupkan oleh sejumlah mahasiswa yang menggoyang-goyangkan pagar hingga pagar tersebut jatuh, namun secepat kilat situasi dinormalkan kembali oleh elit pimpinan aksi dengan memberi informasi bahwa akan ada perwakilan/utusan gubernur yang akan hadir.

Situasi teredam.

Sesaat kemudian utusan tersebut datang menemui peserta aksi. Kedatangannya seolah membawa dan menitipkan pesan harapan. Ataukah sebaliknya hanya tontotan formalitas aparatus dan prasyarat yang mungkin telah dibaca alurnya oleh pemerintah untuk menjaga citranya. Ritual seperti selalu saja terus berulang.

Dengan berakhirnya pertemuan dua kubu ini, tepat saat matahari di atas kepala, aksi demonstrasi ini berakhir. Satu persatu pulang dan membubarkan diri.

 

WALAUPUN DALAM KONDISI yang memang cukup panas itu, saya sama sekali tidak merasakan naiknya adrenalin di tengah situasi yang sama sekali datar. Meski pun ada momen-momen yang sengaja dipanas-panaskan, tetap saja sama datarnya.

Seperti kondisi terdahulu, hari ini berlalu dengan damai dan hanya kembali  menjadi sebuah peringatan. Mungkin, bagi beberapa orang, hari-hari seperti ini adalah ajang untuk eksis, selebihnya sebagai galeri dan kilasan di dalam tayangan media massa. Bukan menafikkan aksi-aksi seperti ini, atau mengatakan bahwa aksi ini tidak penting (dalam kadar tertentu), namun dari ritual yang terus berulang setidaknya ada refleksi dan dialektikanya. Ya, tentu saja hal ini tidak akan pernah lahir dari ritual singkat seperti ini. Tidak akan lahir dari harapan yang ditumpuk pada negara dan apartusnya, atau harapan yang digantungkan pada birokrasi kelas menengah seperti LSM dan partai politik.

Perubahan hanya akan datang dari tangan sendiri oleh mereka yang berjuang. Ada pada petani yang terus resisten dan tahu cara yang tepat dengan merebut langsung tanah kehidupannya yang dirampas. Dengan melihat aksi ini, dimana tujuan dan caranya hanya ditentukan segelintir orang, mengekspresikan segelintir orang, dan dipahami segelintir orang, masih cukup jauh rasanya.

Tapi apapun itu, bagi saya, tak ada yang sia-sia hari ini. Paling tidak saya menjadikannya momen penghormatan bagi para proletariat merebut kembali alat produksinya, juga penghormatan atas setiap keberanian dan aksi langsung bagi para petani dimanapun, yang berjuang untuk kehidupannya. Perjuangan melawan kapital dan otoritas menindas.

Panjang umur petani!

 

24 September 2010

 

 

Tagged , reportase

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !