Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

KEBOHONGAN ALUR PAJAK DAN SUBSIDI

August 8, 2010 by in Artikel with 9 Comments

Bulan Agustus 2010 mendatang, pemerintah akan melakukan pemotongan subsidi bahan bakar minyak melalui pembatasan konsumsi premium. Pemerintah beralasan bahwa pemotongan subsidi dilakukan untuk menjaga konsumsi BBM bersubsidi tidak melampaui kuota Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010.

Mendahuluinya, di bulan Juli ini kenaikan Tarif Dasar Listrik juga telah resmi diumumkan. Alasannya pun seirama, agar subsidi tidak melebihi dari yang seharusnya dipatok dalam APBN.

Ini adalah pembenaran kuno yang terus dipakai hingga sekarang, sebagai skema untuk mempertahankan kapitalisme tetap sehat dan rasional.

Lantas, kamu masih percaya dengan sistem yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi ini? Bahwa kapitalisme dapat membuat masyarakat sejahtera? Bahkan, para kapitalis sendiri justru tak menjalankan teori dan propanda ilmiah yang selalu mereka didengungkan!

Mau contoh? Lihat saja seluruh aturan-aturan yang dikeluarkan, yang justru mengingkari seluruh kampanye kesejahteraan serta kemajuan yang dihembuskan seantero planet.

Skema pemotongan dan pencabutan subsidi akan terus dilakukan hingga mencapai 0%, sebagaimana kaidah ekonomi neoliberal. Hal tersebut jelas tidak selaras dengan konsep kesejahteraan para penganut sistem sirkulasi kapital ini. Dalam setiap pidato resmikenegaraan terkait masalah ekonomi, daya beli masyarakatlah yang selalu dielu-elukan. Tetapi pidato hanyalah pidato, kenyataannya pemberlakukan pembatasan subsidi BBM misalnya, malah mencekik masyarakat.

Target konsumsi yang didengungkan pemerintah juga hanya jadi bualan, yang hanya ada dalam setiap sambutan peresmian proyek-proyek pembangunan raksasa.

Kebohongan terbesar dapat dilihat pada penyusunan APBN-Perubahan. Tahun 2010 target penerimaan dari pajak dipatok sebesar Rp 702,033 trilyun. Semua itu tentu saja ditarik dari seluruh aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh kelas pekerja mereka yang menjual tenaga untuk bertahan hidup di bawah sistem yang mengharuskan setiap barang memiliki nilai-jual. Pertanyaan kemudian, apakah para pemilik modal tidak membayar pajak?

Mereka membayar Pajak Penghasilan dengan cara memotong upah para pekerja. Mereka membayar pajak pertambahan nilai dengan memasukan pada label harga suatu barang. Oleh karenanya, pertanyaan sebenarnya adalah siapa sebenarnya yang membayar pajak? Para pemodal atau pekerja?

Dalam sistem ini si borjuis kembali mendapat tempat yang nyaman saat pemberlakuan pembebasan pajak (tax holiday). Pembangkangan terhadap logika dasar equilibrium kapital pun kembali berlanjut. Setiap modal yang terendap di masyarakat harus ditarik melalui pajak, kemudian dikembalikan ke masyarakat melalui subsidi.

Setelah melihat targetan pajak 2010, bandingkan dalam APBN 2010 yang disahkan DPR dan pemerintah, dimana beban subsidi tahun ini mencapai Rp. 201,3 triliun. Jumlah itu terdiri dari subsidi energi sebesar Rp. 143,9 triliun, dan subsidi non-energi sebesar Rp. 57,3 triliun. Ini berarti ada sekitar Rp. 501 trilyun dana tidak distimulir kembali. Jumlah itu hanya dikurangi sedikit dengan dana alokasi ke desa yang hanya sekitar Rp. 17 trilyun. Dan sisa dari pendapatan pajak itu dinikmati oleh para pejabat, pengusaha, serta konsorsium-konsorsium bisnis raksasa yang mendapat kemudahan melalui pengalokasian dana untuk stabilitas keamanan dan pembangunan jalur distribusi produk.

Jelas terlihat bahwa setiap penarikan pajak dan penyaluran subsidi tidak mempraktekan teori ekonomi yang mereka anut. Ini merupakan satu dari sekian banyak bukti bagaimana kapitalisme tidak bisa diandalkan, bahkan bagi penganutnya sendiri.

Jadi, masih membenarkan seluruh aturan yang mereka tempuh? Masih mau terus terpuruk dalam penghisapan serta kebohongan kapitalisme dan Negara? Kita masih bisa mewujudkan alternatifnya.

Tagged , ,

Related Posts

9 Comments

  1. mahesa djenarAug 8, 2010 at 5:26 pm

    yahh, keluar dari alur logika, hukum dan uang.

  2. RalluAug 9, 2010 at 11:34 am

    Ulasan tulisannya sangat menarik menurutku. Tapi sungguh, ada sebuah kritik yang harus kita hadapkan bersama-sama ke wajah kita. Sebuah kritik yang pernah disampaikan oleh seseorang kepadaku. Mungkin ini bisa kita bagi bersama.

    Apakah kita tak terlalu sombong dan egois dengan menuliskan semuanya dalam tata bahasa yang rumit dan membingungkan orang-orang yang hari ini terlalu sibuk untuk sekedar meluangkan waktu membuka kamus karena tersedot oleh aktifitas bekerja?

    Apakah tulisan2 kita tak menunjukkan arogansi kelas menengah borjuis kecil yang menjadikan tulisan semacam ini sebagai ajang pamer kata2?

    Apakah tak ada kemungkinan untuk kita menyederhanakan semua kerumitan tata bahasa yang diciptakan oleh lingkungan intelektual yang telah terbukti mendidik kita dalam dunia yang terkotak-kotak?

  3. kontinumAug 10, 2010 at 6:07 amAuthor

    Thanks, Rallu.
    Kami sebenarnya juga tengah berupaya untuk membuat segala sesuatunya lebih mudah dipahami. Ini adalah tantangan klasik buat kami. Mengapa Serum diterbitkan, karena niat awalnya justru untuk memproduksi sebuah media yang lebih populer, ketimbang jurnal-jurnal yang terlalu rumit bahasan dan bahasanya.
    Tetapi, kerumitan teks sebenarnya tergantung pada sasaran pembacanya. Menurut kami, khusus artikel ini, tidak terlalu sulit mencernanya.
    Tapi sekali lagi, terima kasih, Rallu. This is great feedback, you know… =)

  4. Alisa Dita NaimpianAug 10, 2010 at 8:52 am

    yang saya bingungkan, apa hubungan tata bahasa dengan borjuis kecil yang dimaksud si Rallu? mungin bisa diperjelas konsepsi kelas yang dimaksud..

    logika dan bahasa pemerintah merasionalisasi kebijakanbnya jauh lebih rumit, jika dibandingkan dengan tulisan yang sangat sederhana ini. Dan kalau untuk tujuan ketenaran intelektual, saya kira salah tempat bagi kontributor untuk mengisi tulisannya di web ini “secara cuma-cuma”.

  5. RalluAug 13, 2010 at 12:40 pm

    @ Alisa:

    Kritik yg saya tuliskan di atas adalah sebuah kritik yang dilayangkan oleh seorang kawan kepada saya beberapa waktu lalu.

    Itu saya kutip langsung dari email yang pernah dikirimnya ke saya. Pendapat saya hanya diparagraf pertama. Tapi memang saya lupa menggunakan tanda petik agar membedakan dengan pendapat saya.

    Tapi, kalau memang bahwa kritik itu tak bermanfaat buatmu, tak mengapa.

  6. Alisa Dita NaimpianAug 14, 2010 at 3:08 pm

    Maaf Rallu, ini bukan pada persoalan tidak bermanfaat atau antikritik atas tanggapan tersebut. Tapi terus terang, seringkali secara pribadi saya kurang mengerti redaksi ataupun konteks kalimat yang dimaksud. Seperti penggunaan “borjuis kecil atau kelas” dan kaitannya dengan tata bahasa seperti yang dimaksud teman rallu itu. Apakah seseorang yang menulis dengan rumit serta merta dikatakan borjuis lalu kategori kelas seperti apa yang dimaksud? mungkin ini bisa disampaikan

    Kami dengan senang hati menerima segala tanggapan selama untuk membuka ruang diskusi.
    Web ini, dikelola secara swadaya, tanpa iklan komersil, tanpa bantuan dari donor manapun. Dan kami mengkontribusikan tulisan secara cuma-cuma

    Disini hanya ruang sempit untuk sekedar menuliskan apa yang terjadi sehari-hari di sekitar kita, yang terjepit dalam penjara otoritas dan susah payah bertahan dalam relasi kapital.

    Thanks rallu:)

  7. RalluAug 15, 2010 at 9:47 am

    Dear Alisa yang baik,

    Aku mengerti tentang inti pertanyaanmu. Tapi bagi beberapa orang yang kutemui, keluhan seperti di atas sering sekali mereka sampaikan.

    Aku merasa bahwa hal ini bisa dijadikan kritik kita bersama. Tentang upaya perjuangan pembebasan hidup harian kita dan tentu saja orang lain.

    Tentu aku berasumsi bahwa kita sama-sama percaya bahwa kebebasan yang sedang kita perjuangkan adalah kebebasan semua orang.

    Aku terus mengunjungi Kotinum karena aku tau, bahwa situs ini adalah praktek yang melampaui teori dan utopi tentang swadaya, mutualis, akses gratis terhadap pengetahuan dan banyak lagi.

    Aku berharap suatu waktu nanti bisa berkontribusi juga di sini. Dengan semangat yang mungkin sama dalam hasrat masing-masing.

  8. mahesa djenarAug 15, 2010 at 3:59 pm

    asumsinya saya tidak mengetahuinya makanya saya mendengarkan. saya sangat tertarik yang dikatakan ralu bahwa “Apakah kita tak terlalu sombong dan egois dengan menuliskan semuanya dalam tata bahasa yang rumit dan membingungkan orang-orang yang hari ini terlalu sibuk untuk sekedar meluangkan waktu membuka kamus karena tersedot oleh aktifitas bekerja?”
    bagiku bahasa adalah kekuasaan, bahasa mengandung nuansa politis. sejauh ini pertarungan banyak orang adalah pertarungan bahasa semata, bahkan jauh dalam sejarah bahasa adalah media kekuasaan. bagaimana inka dan maya, sumeria dan mesir buru buru menciptakan tulisan dan bahasa yang mampu menjaring kekuasaan, mungkin tulisan dakidae tentang kekuatan bahasa yang digunakan para pemimpin dunia sangat jauh dengan bahasa kren apa lagi ilmiah, bahasanya sangat rendahan, memelas, dan penuh dengan nada kasihan, sangat mudah dimengerti oleh masyarakat. sehingga mungkin kritik terhadap bahasa yang tinggi mesti diarahkan ke proporsinya, tujuan tulisan itu, semangat penulis dan konteks tulisan, semacam libenstraung (nda tau padanan katanya di indonesia apa) feyeraben dalam teori bahasanya bahwa bahasa itu mempunyai semangat zamannya ia tidak bisa diwakili oleh bahasa lainnya, yang di perlukan adalah toleransi.
    nah, jika kita mengarahkan kritik bahasa yang tinggi (untuk menggambarkan bahasa yang susah dimengerti) mestilah mengetahui tujuan dari tulisan itu, jika dia menyerang akademisi maka tulisannya mestilah akademis, jika tulisannya untuk masyarakat umum maka bahasanya mesti jauh dapat dicernah oleh masyarakat umum. hahaha, kritik ralu benar namun salah jika di terapkan dalam semua hal. dan kadang saya mendapati seorang teman saya mengkritik penggunaan bahasa tinggi hanya karena ia malas untuk membaca dan seakan berusaha menghindarinya.hehehe. thanks. heheh MJ

  9. mahesa djenarAug 15, 2010 at 4:07 pm

    tirani atau, kekuatan dan. ada yang tau ini.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !