Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

JURNALISME SAMPAH

June 1, 2010 by in Artikel with 10 Comments

Sebuah Kritik Yang Tidak Kritikal
Poldari Kabul


Dalam sebuah pertemuan event jurnalistik di Makassar baru-baru ini, seorang aktivis pers mengomentari Jurnal Kontinum[1] sebagai contoh “jurnalisme sampah”. Mulanya setelah membaca Jurnal Kontinum #4 yang merupakan edisi khusus solidaritas kepada perjuangan petani Polongbangkeng, Takalar melawan perusahaan agrikultur negara PT Perkebunan Nusantara XIV. Edisi yang mengangkat rentang perjuangan warga, taktik-taktik aksi langsung (direct action) dan sabotase yang dikembangkan oleh petani, hingga analisa relasi industri global dan nasional dengan perampasan lahan petani, dianggap lebih pantas berada di Tamangapa[2].

Apakah Jurnal Kontinum Sebuah Karya Jurnalistik?

Dalam buku-buku panduan jurnalistik formal, sering ditulis prinsip utama karya jurnalistik berupa tidak memihak dan mesti melakukan pemberitaan secara berimbang. Poin inilah landasan kritik yang dilayangkan terhadap Jurnal Kontinum yang tidak meminta konfirmasi pihak PTPN XIV, sebagai pihak yang telah merampas tanah warga Polongbangkeng selama hampir 30 tahun.

Saya merujuk pada Noam Chomsky yang mengatakan bahwa media yang diklaim menjadi gambaran dari karya jurnalistik, sebenarnya telah tersusun rapi dari beberapa filter-filter. Filter-filter tersebut adalah pemilik media (pemilik modal), ketergantungan pada pemerintah serta pakar dan ahli, membangun korelasi dengan pengiklan, memiliki mekanisme pengontrol atau flak, dan menyebarkan mitos anti komunisme[3].

Dari sebuah gambaran diatas tentang media, timbul pertanyaan tentang “Jurnal Kontinum”. Apakah Jurnal Kontinum adalah hasil karya jurnalistik?

Kami adalah media dimana tak seorang pun yang terlibat di dalamnya, menjadi pemilik media/modal. Dalam struktur redaksi, kami menerapkan prinsip non-hirarkis yang tidak seorang pun bisa menentukan secara eksklusif kebijakan redaksional. Apa yang ditulis pun tidak pernah memuji prestasi pemerintah melalui mulut pakar dan para ahli. Alih-alih, kami lebih memilih perjuangan dan perlawanan masyarakat sebagai hal yang lebih layak kami sebar. Media massa selalu mengharapakan uang dari pengiklan, dan Kontinum memilih menjalankan swakelola dimana pendanaan (biaya produksi dan distribusi) berasal dari kolektif. Kontribusi dari partisipan adalah solusinya, bukan uang dari korporat, pemerintah dan lembaga donor. Dalam struktur yang non-hirarkis ini, kami tidak mengenal mekanisme pengontrol semacam dewan pers untuk menyetir dan menyemprit saat teks yang kami tulis keluar jalur. Kami, karenanya, adalah kontrol itu sendiri!

Sementara tentang wacana anti-Komunisme, dimana media borjuis sering gembar-gemborkan, kami memiliki argumen sendiri untuk tidak terjebak dengan kebodohan yang amat dangkal yang dimiliki para media. Jika mereka menganggap komunisme identik dengan Uni Sovyet, Partai Komunis, atau PKI dan Leninismenya, maka kedua-duanya –anti-komunisme media dan Komunisme (dengan huruf kapital), merupakan hal yang kami tolak.

Menjadi Media Propaganda

George Orwell pernah mengungkapkan perkembangan media komunitas saat terjadi perang sipil di Spanyol. Tiap kolektif dan kelompok saat itu memiliki media propagandanya masing-masing sebagai senjata dalam perang wacana –salah satu perang dalam perang sipil Spanyol. Perang sipil itu menjadi bukti perjuangan dan perlawanan masyarakat akan “hantu fasisme”.

Nah, di era modern hari ini, sering dianggap sebagai dunia dalam keadaan aman damai yang ditandai keberadaan lembaga multinasional selevel Perserikatan Bangsa-bangsa, apa yang terjadi sungguh sebaliknya. PBB yang diklaim sebagai penjaga perdamaian justru menjadi perpanjangan tangan dari negara-bangsa dengan libido perang yang hyper. Terjadi invasi besar-besaran untuk memperluas daerah perputaran modal dan melakukan eksplotasi alam yang tidak ketulungan. Lalu media massa? Mereka menutup sebelah mata permasalahan itu. ini hanya contoh kecil saja bagaimana posisi media massa sebenarnya. Mengulang penjelasan Chomsky, makin jelas bahwa media massa adalah salah satu tentakel gurita kapitalisme yang keberadaannya melengkapi negara-bangsa.

Sementara itu Subcommandante Marcos, juru bicara masyarakat adat Chiapas, Meksiko Tenggara yang dikenal dengan perjuangan Zapatista, membagi empat fase dalam Perang Dunia. Keempat fase itu adalah PD I (1917-1939), PD II (1939-1945), PD III atau lebih dikenal dengan Perang Dingin (1945-1990), dan PD IV yang mulai memuncak saat diberlakukannya North Amerika Free Trade Area (NAFTA). Perang Dunia IV kemudian ditandai dengan gerakan bersenjata petani miskin dan masyarakat adat di Chiapas dengan mendeklarasikan EZLN (Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) sebagai respon perlawanan mereka pada 1 Januari 1994.

Perang Dunia IV yang dikemukan oleh Marcos sebenarnya bersesuaian dengan Perang Kelas yang pernah ditulis oleh Marx. Dimana saat ini sumber-sumber kehidupan dikuasai oleh segelintir orang dengan konsursium bisnisn raksasa dan lembaga keuangan multinasional. Selain mengangkat senjata para insurgen Zapatista juga menyebarkan komunike-komunike. Metode menjadikan kata sebagai senjata oleh masyarakat adat meksiko telah membangkitkan solidaritas dari kaum tertindas oleh tata ekonomi pasar. Eksisnya EZLN hingga saat ini telah membuktikannya.

Kami berfikir bahwa dalam perang kelas ini, atau Perang Dunia IV menurut pembagian tersebut, posisi kami melawan siklus ekonomi dan politik otoritarian. Kami berposisi menjadi media propaganda. Perjuangan dan perlawanan terhadap kekuatan modal oleh proletariat di tingkatan lokal menjadi fokus kami. Jika saat pemberlakuan NAFTA direspon dengan pemberontakan EZLN, maka kami berharap diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dapat melahirkan EZLN-EZLN baru disini. Dan karenanya, untuk melihat itu apakah kami PERLU mengkonfirmasi pihak-pihak yang terkait dan melakukan pemberitaan berimbang, meminjam mulut pakar dan teoritisi borjuis?

Panjang umur perlawanan global!


[1] Jurnal Kontinum adalah jurnal antiotoritarian yang diproduksi secara bebas, berbentuk cetak (printed), yang diterbitkan dan dikelola oleh Kontinum, sebuah grup antikapitalis antiotoritarian yang berbasis di Makassar, Indonesia.

[2] Nama sebuah Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Makassar (ed)

[3] Chomsky menyusun tesisnya di era pasca perang dingin, untuk sekarang Komunisme bisa diperluas menjadi terorisme, antikapitalisme, anarkisme, fundamentalisme, dan anasir-anasir lain yang menyerang kepentingan borjuis yang berkuasa saat ini.

Tagged , jurnalisme, media

Related Posts

10 Comments

  1. -LJun 3, 2010 at 8:03 pm

    tidak ada buku daLam bentuk soft fiLe yg bisa di donLot disini,.?

  2. phyroJun 9, 2010 at 5:20 pm

    tentu!! si aktifis pers tersebut berkata demikian karena media mainstream merupakan basis produksi dari tentakel negara dan korporasi. relasi sosial di ekspektasikan menjadi prinsip keuntungan yang lebih bagi sang pemilik media…hehe mampuslah neoliberalisme!!! salam bungaApi

  3. kontinumJun 10, 2010 at 1:20 amAuthor

    -L, kami lagi menambah kapasitas penyimpanan untuk bisa menampung bahan bacaan yang bisa didownload.

  4. kontinumJun 10, 2010 at 1:33 amAuthor

    Kawan Phyro, memang benar bahwa media massa menjadi bagian tak terpisahkan dari penghisapan ekonomi kapital serta kontrol dan represi negara.
    Tetapi sekarang, tidak lagi terbatas pada media mainstream saja, banyak media-media alternatif (yang tidak berada dalam arus utama) toh menjalankan logika ini juga. Ikut memapankan tatanan ini. Dan karenanya, bukan lagi aspek ekonomi semata (seperti kepentingan pengiklan, atau isu-isu yang mendukung kapitalisme) tetapi juga mengkonstruk masyarakat untuk tetap nyaman dan tidak lagi berfikir ulang tentang dunia lain yang mungkin.

    Salut untuk bungaApi!
    Tim K

  5. behind the brutal residenceJun 15, 2010 at 6:47 am

    “Kami adalah media dimana tak seorang pun yang terlibat di dalamnya, menjadi pemilik media/modal”

    ^_^

    bukan kapitalis bangsat, betul?

    boleh minta jurnal-nya?

  6. flying dutchmanJun 24, 2010 at 10:44 am

    mereka bicara netralitas dengan mulut penuh makananan hasil iklan dari koorporasi.

    mereka bicara tentang keberpihakan dengan tubuh yang gemetar ketakutan pada negara.

    media hari ini hanya cocok buat bungkus kacang goreng, atau buang ke tempat sampah sekalian!

  7. oditekecilJun 25, 2010 at 5:41 am

    sampah bisa di daur ulang.. ketika semua barang2 yang berlebih produk pemodal bangsat terbuang di tempat sampah, maka ada beberapa tangan yang bisa mengubahnya menjadi tak kalah dari sebuah permata cantik..

    sampah tak lebih buruk dari penjilat pantat kaum pemodal..

  8. SalamentariSep 23, 2010 at 4:46 pm

    Jurnalisme mewakili apa yang disebut Plato sebagai Doxa, atau dunia opini yang selalu berubah-ubah. Saya sepakat atas penilaian kalian soal media mainstream, karena saya berada di dalamnya. Salam kenal dari Pulau Borneo.

  9. kontinumSep 24, 2010 at 9:32 amAuthor

    Bravo, kamerad! Senang berkenalan denganmu

  10. debDec 22, 2010 at 6:35 am

    “..you don’t need a journalism degree to write what you
    see happening around you”
    kutipan dari mitzi waltz dalam bukunya alternative and activist media

    panjang umur media kontinum..
    salam kenal
    ^_^

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !