Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

MENCARI BARA DI MALLAWA

May 12, 2010 by Burhan May Lee in Artikel, Reportase with 23 Comments

Catatan Perjalanan ke Desa Uludaya, Mallawa, Maros
Burhan May Lee

Sejumlah masyarakat Kecamatan Mallawa dan Kecamatan Mandai melapor ke Wakil Bupati (Wabup) Maros Andi Paharuddin, Kamis (2/4). Laporan ini terkait aktivitas penambangan yang dianggap sudah sangat mengkhawatirkan. Selain merusak alam, limbah penambangan batu bara  juga telah merembes ke sawah warga yang akan mempengaruhi kualitas produksi padi dan tanaman lainnya.  Selain itu, penambangan ini juga merusak jalan poros akibat kendaraan yang mengangkut bahan tambang (Tribun Timur, Jumat 3 April 2009)

Potongan berita tersebut memancing begitu banyak pertanyaan di kepalaku. Pada akhirnya tumpukan pertanyaan itu membawaku pada pembicaraan dengan sejumlah kawan mengenai sebuah daerah yang cukup terpencil bernama Mallawa, di Kabupaten Maros, daerah yang bersisian dengan Makassar.

Dan kami bertiga – saya, Alisa dan Saleh, memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam apa yang terjadi di daerah tersebut. Satu-satunya cara terbaik adalah dengan mendatangi tempat itu.

* * *

Rabu, 6 Januari 2009 kami berangkat ke Mallawa, Kabupaten Maros. Dengan berbekal informasi seadanya, dimulailah perjalanan yang menempuh jarak 80 kilometer selama 90 menit dari Makassar. Jalanan berkelok-kelok di wilayah Camba sedikit melambatkan perjalanan. Seorang tukang tambal ban memberi petunjuk bahwa Mallawa berjarak kurang lebih 20 kilometer dari tempat kami bertanya. Kami pun melanjutkan perjalanan berdasarkan petunjuk tersebut. Mataku sesekali melirik papan nama apapun yang berada di sisi jalan untuk memastikan posisi kami saat itu. Ini karena biasanya papan-papan tersebut menampilkan informasi tentang nama jalan, desa atau kecamatan tempat tersebut.

Sebuah tembok besar dengan cat putih yang telah banyak rontok memberi tanda bahwa kami telah memasuki kecamatan Mallawa, tetapi lokasi yang menjadi tempat eksplorasi dan eksplotasi tambang batu bara butuh petunjuk yang lebih jelas dari sekedar batas kecamatan. Sepeda motor terus kupacu hingga di depan sebuah lapangan sepakbola di Kelurahan Sabila. Di sisi lapangan yang berbatasan dengan jalan poros Makassar-Maros, berdiri tegak sebuah papan informasi dengan redaksi :

“Dilarang melakukan kegiatan penambangan tanpa surat izin penambangan daerah (SIPD) sesuai Perda No. 21 Tahun 2001” Distamben Pemkab Maros tahun 2009 .

Pikiran kami, di sekitar sinilah terdapat aktifitas penambangan. Tidak jauh dari tempat kami berhenti nampak seorang lelaki tua bercelana pendek yang tengah sibuk menata halaman rumahnya. Saya kemudian bertanya padanya apakah ada aktivitas penambangan di sekitar daerah ini. Ia lantas menunjuk ke arah jalanan dengan aspal yang terkelupas tidak jauh dari kedua kawanku berdiri. Katanya, wilayah tambang masih 10 kilometer dari tempat kami berada sekarang, dengan menempuh jalan ia tunjuk tadi.

Batu dan kerikil tampak mendominasi jalan yang kami lalui, tampaknya jalan ini baru dirintis dan akan segera dirampungkan. Tapi ada yang aneh, karena di beberapa sisi jalan tampak potongan-potongan aspal utuh seperti aspal di jalan-jalan Makassar, Maros atapun Camba. Asumsi-asumsi ini tampaknya butuh bukti dan argumen terutama pernyataan dari masyarakat di tempat ini. Untuk sementara rasa penasaran kusimpan dulu untuk berkonsentrasi menemukan lokasi tambang. Hujan gerimis, tanah yang becek, daun-daun yang basah dan sungai-sungai kecil jadi teman yang akrab. Kehadirannya memberi sedikit kehangatan di tengah udara dingin khas daerah pegunungan. Barisan rumah lengkap dengan bangunan sekolah dasar jadi pertanda bahwa kami telah memasuki daerah permukiman.

Daerah itu bernama Desa Uludaya. Ulu artinya kepala dan daya artinya kekuatan, kata H. Andri Kepala Desa Uludaya. Kami menyempatkan mampir di rumah kepala desa, yang berada tepat di depan lapangan sepak bola. Rumahnya biasa saja, seperti rumah penduduk yang lain, konsep rumah panggung yang seluruhnya dari kayu. Tapi mobil Kijang Innova yang terparkir di kolong rumah, serta sebuah eskavator yang bertengger bisu di seberang halaman rumah cukup memberikan tanda yang mencolok tentang siapa pemilik rumah tersebut.

Hidangan teh hangat dan kursi sofa yang empuk menyela perjalanan kami yang sesak dengan hujan dan udara dingin. Perbincangan dimulai dengan seputar Desa Uludaya, tentang warga desa, mata pencaharian dan bahasa yang sering digunakan warga untuk berkomunikasi. Menurutnya, dari sekitar 800 orang warga desa, hampir seluruhnya adalah petani pengolah sawah atau kebun. Mereka menggunakan bahasa Bugis dengan dialek yang berbeda dengan bahasa Bugis di daerah lain, dalam berkomunikasi sehari-hari.

Saat kami menanyakan sejarah desa ini, si Kepala Desa hanya bisa menjelaskan makna kata uludaya, selebihnya ia tidak tahu persis bagaimana awalnya terbentuk. Katanya, yang tahu persis adalah orang-orang tua desa yang masih mengingat kisah yang diceritakan turun temurun. Ia kemudian menunjuk ke jendela dan mengarahkan telunjuknya ke rumah panggung dengan warna kuning gading. Di rumah tersebut tinggal seorang tua yang tahu persis kisah terbentuknya desa ini. Kami hanya mengangguk.

Perbincangan pun sampai pada masalah tambang. Saleh bertanya apakah batubara yang ditambang dipakai masyarakat setempat sebagai bahan bakar di dapur. Pria perokok berat tersebut menjawab tidak, batubara tersebut harus diolah dahulu untuk menghilangkan sulfur yang berbahaya bagi tubuh. Kami tidak bertanya lebih jauh masalah tambang ini. Tampaknya ia tidak bersemangat dengan topik yang kami ajukan, entah apa alasannya. Kurang lebih satu jam kami berbincang, lokasi penambangan belum juga kami temukan, dan akhirnya kami pamit melanjutkan perjalanan.

Mengendarai motor di atas jalan yang becek sungguh menyebalkan, beberapa kali kami hampir jatuh akibat kehilangan keseimbangan. Tanah dan batu yang dibalut air sulit untuk dicengkram ban motor. Tanda-tanda aktivitas penambangan mulai terlihat, tumpukan pasir dan batu berwarna hitam mengkilap tampak di beberapa sisi jalan yang kami lalui. Tumpukan itu tidak lain batu bara yang siap diangkut ke tempat pengolahan. Deru suara mesin mobil terdengar makin jelas seiring berpacunya motor yang ku kendarai. Tidak salah lagi, itu adalah suara mesin truk berukuran besar lengkap dan berdiri kokoh disampingnya eskavator berwarna kuning.

Tampaknya penambangan sedang berlangsung, sendok raksasanya dengan rakus menggaruk punggung bukit, dan menumpukkan hasil garukan itu di lahan yang lapang, di mana truk-truk yang mampu menampung muatan hingga 30 ton dengan sabar menanti tuk di penuhi dengan pasir dan batu ajaib itu. Lubang-lubang berukuran besar menganga di sekitar area penambangan bagaikan borok di tengah permukaan kulit mulus. Lubang tersebut merupakan wilayah yang telah habis dikuras batubaranya. Seperti pepatah, habis manis sepah dibuang, lubang-lubang tersebut ditelantarkan begitu saja dan tidak ditutupi dengan tanah lain. Kondisi ini sangat beresiko longsor, karena lubang tersebut berada di wilayah perbukitan dan merupakan lahan tempat tumbuh beraneka ragam pohon khas daerah tersebut yang mampu mengikat tanah dan menyerap air.

Untuk beberapa alasan, kami memutuskan untuk tidak singgah dan hanya memotret drama memilukan ini dari atas motor yang kami kendarai. Beberapa ratus meter dari lokasi penambangan tersebut terdapat sebuah kampung. Kami pun berhenti sejenak di sebuah rumah panggung, banyak anak-anak berkumpul di halamannya. Sang pemilik rumah, seorang ibu, menyambut kami dengan hangat dengan mempersilahkan kami masuk. Ia sungguh ramah, sampai saya lupa menanyakan siapa namanya saat kami pertama berkenalan.

Obrolan dengannya juga kami mulai dengan bertanya soal tambang, tentang awal mula hadirnya pertambangan di desa ini. Beberapa tahun lalu, setelah sebuah penelitian dari beberapa perguruan tinggi terkenal mengungkap temuan mereka tentang tanah Mallawa yang mengandung batubara potensial, banyak warga desa yang mulai banting setir menjadi penambang. Termasuk kepala desa mereka. Tentu saja pembukaan tambang membutuhkan modal yang besar, karena harus mendatangkan peralatan berat yang harganya ratusan juta rupiah. Maka yang bermain di bisnis ini hanyalah orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang berlebih. Di desa ini, mungkin kepala desa adalah salah satu dari segelintir yang memiki persyaratan tersebut. Jika tidak demikian, maka korporasi besarlah yang akan memodali elit-elit di desa ini untuk membuka pertambangan dan menikmati hasil tambang dengan harga murah. Kapitalis, sekali lagi, menemukan jalan ke Roma.

Saat kami bertanya apakah penduduk desa pernah protes terhadap aktivitas penambangan di wilayah ini, ia menjawab tidak pernah mendengar ada warga yang protes ke pemerintah. Si ibu pemilik rumah hanya mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah. Tiga tahun lalu, ia kemudian bercerita, sebelum ada aktivitas penambangan, jalanan dari desanya menuju jalan poros Maros-Makassar sangat baik. Ketika truk-truk mulai keluar masuk melalui jalan desa, jalanan menjadi rusak, aspalnya mulai pecah dan terkelupas, katanya.

Akhirnya aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku tentang jalan berkerikil dan berlumpur yang kami lalui. Keresahan akan kondisi jalan ini tampaknya hanya mengendap dalam kepala warga atau menjadi bahan pembicaraan di antara mereka tanpa tindak lanjut. Menurutku, keengganan warga untuk sekedar protes atas jalan yang rusak tersebut, diakibatkan karena aktivitas penambangan ini didalangi oleh tokoh masyarakat di desa mereka sendiri yaitu kepala desa. Superioritas kepala desa yang memiliki kekuatan ekonomi, pengetahuan administratif dan otoritas untuk menetapkan suatu aturan di desa, menyebabkan keresahan warga sulit untuk diekspresikan. Penetrasi negara sungguh kuat dalam menanamkan kepatuhan dalam individu dilakukan hingga ke pelosok desa melalui tentakelnya yaitu pemerintahan desa, sekolah, lembaga agama dan berbagai instansi lainnya. Hal ini berlansung selama puluhan tahun dan mengakar dalam kehidupan masyarakat desa. Pemerintah yang secara determinan diterima dan dipercaya untuk mengatur kehidupan warga desa menghasilkan ketidakberdayaan warga desa ketika menghadapi persolan yang menyangkut kehidupan mereka seperti kasus jalan rusak tersebut.

Kopi hangat pun hadir di tengah perbincangan kami yang juga hangat ini. Hal yang ia paparkan tentang desa mereka tidak jauh berbeda seperti yang diceritakan oleh kepala desa. Hanya saja masyarakat di kampung tersebut tidak bersawah karena bentang alamnya tidak memungkinkan, telalu curam katanya. Petani di kampung tersebut hanya berkebun dan saat ini tengah panen buah kemiri.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 16.17, kami harus segera pulang. Saat kami pamit pulang, si Ibu yang ramah pemilik rumah itu memberikan tiga kantong plastik berisi buah kemiri. Sebagai oleh-oleh katanya.

* * *

Kami berhasil mencapai jalan poros saat magrib dan meninggalkan Mallawa saat matahari sudah beranjak. Jalanan Camba yang berkelok-kelok kami lalu saat hari sudah gelap. Makassar tampak masih sibuk saat kami tiba, lampu yang gemerlap, suara kendaraan yang bising kembali akrab di mata dan telingaku. Tumpukan pertanyaan sewaktu membaca berita koran tentang Mallawa, kini semakin menggunung. Tidak ada protes di sana, setidaknya menurut pengakuan salah seorang warga yang kami temui langsung. Namun aktivitas penambangan dan jalanan yang rusak akbibat truk pengangkut adalahbenar adanya. Di lain kesempatan aku akan berkunjung kembali ke Mallawa. Semoga banyak kejutan nantinya.

Tagged , mallawa, tambang

Related Posts

23 Comments

  1. lunar seaMay 12, 2010 at 6:21 am

    perjalanan nekad namun seru, sesuatu yang tragis bahwa pelaku penghancuran tempat ini justru para akademisi geologi yang menemukan potensi kapital di tanah yang menyejukkan ini.

  2. flying dutchmanMay 12, 2010 at 7:25 am

    dari fotonya kelihatan parah nih tempat…

    namun beritanya jarang terdengar, menunggu letusan sejata brimob barangkali?

  3. kontinumJun 3, 2010 at 4:03 am

    http://tribun-timur.com/read/artikel/108541/Batu-Bara-di-Maros-Segera-Ditambang

  4. mahesa djenarJul 27, 2010 at 2:49 am

    laporan yang penuh dengan petualangan.kreeeen

  5. mahesa djenarJul 27, 2010 at 3:48 am

    [email protected] nda parah, tapi ancurrrrrr. liat lumpurnya, becek beceknya, eskapator eskapatorna. pohon pohonya. manakah.

  6. pajokkaAug 19, 2010 at 4:32 am

    wahhh.. makin parah tuch desa, ada ga sich izin penambangannya, bagaimana amdalnya dari pemerintah??? lanjutkan petualangannya kawan semoga berhasil sampai tujuan.. klo bosa masukin aja di video kiriman anda di TV One.

  7. pa,dengngengAug 19, 2010 at 4:39 am

    kayaknya sich lebih baik LSM dulu yang masuk trus muat di media Cetak dan elektronik, stelah itu kan pasti ada perhatian pemerintah pusat, jangan maros klo maros percuma. cari tau trus siapa yang melakukan ini, saya yakin masyarakat setempat bukan hanya ga ngerti tapi mereka takut melaporkan klo mendenganr ceritanya, tau sndiri kabupaten mallawa sangat terpencil n ga ada instansi pemerintah di desa desanya..

  8. ..kayumeranti..Aug 19, 2010 at 12:32 pm

    @pa’dengeng: kayaknya lebih baik LSM jgn masuk2..

  9. acholAug 27, 2010 at 12:06 am

    makassar kemallawa betul2 perjalanan kesuatu desa yg sangat terpencil dan pastinya sangat melelahkan tapi asik, coba singgah di kota maros tepatnya di maccopa mungkin klo masalah dampak akibat aktivitas pertambangan misalnya jalan yg rusak,bekas galian tidak kalah parahnya dengan mallawa jadi kenapa mesti terlalu jauh kemallawa..???????

  10. evantAug 27, 2010 at 1:57 am

    sebenarnYa kami sangat khawatir dengan proses penambangan tersebut, yang duLunya adalah tambang pasir kuarsa, sekarang tambang batu bara, semuanya telah merusak alam, jalanan utamanya. Pemilik Lahan juga hAnya dibayar seadaNya. nAmun tidak seorAng puN yang bErani prOtes dan mELapor karena yanG diDalamnya adalah para tokoh maSyarakat sEndiri.

    By: Putra Mallawa

  11. pa,denggengSep 2, 2010 at 6:05 am

    kayu [email protected] trus siapa lagi yg mau perhatikan mallawa klo bukan LSM. hampir semua putra mallawa duduk dipemerintahan dan yang melakukan penambangan mereka mereka juga.. masyarakat kecil tidak ada yang berani..

  12. pa,denggengSep 2, 2010 at 6:11 am

    [email protected] yang di maccopa itu pertambangan resmi memiliki izin resmi klo ga salah, nah coba di mallawa tanyakan bagaimana?? apa ada amdalnya??

  13. anak pasa mallahaSep 2, 2010 at 6:19 am

    percuma cess kalau tambang yang di mallawa ga usah diutak atik klo ga salah penambangnya kmarin ikut nyaleg itu, kira kira kalau kayak dia naik ke dewan bukan kepentingan masyarakat yg diutamakan tapi bagaimana dia bisa dapat proyek besar…. kapan majunya mallawa, anggaran yang masuk untuk prbaikan jalan kerjanya ga jelass… mallaha…mallaha..kayaknya yang bakal maju cuma desa wanuaru, kalau uludaya, batu putih, mattampa pole, yaaa… kepentingan pribadi masing masing orang yg punya taring…

  14. pattacceo mallahaSep 14, 2010 at 4:34 am

    nakkelori maneng aga elo najama.. maju terus mallawa yang penting jataku mengalir….

  15. kontinumSep 14, 2010 at 5:51 am

    Dalam setiap jaman, selalu ada kelompok-kelompok yang menyamarkan ke-pengecut-annya dengan berbagai dalih. Senantiasa juga ada kelompok yang telanjang membela ke-pragmatis-annya, sifat-sifat oportunisnya. Itu biasa …
    Oleh karena itu, bung ‘Pattacceo’ (bahkan nama dan alamat emailnya pun palsu, untuk menyembunyikan identitasnya yg memalukan), semoga jatahmu mengalir … !!!

  16. Tau MallahaSep 29, 2010 at 3:45 pm

    Sebagai orang Mallawa aku sangat prihatin terhadap penambangan BATU BARA di desa ULUDAYA yang semakin merajalela, bahkan saat ini penambangan sudah mulai mendekati lokasi pemukiman (rumah penduduk) bahkan ada penambangan yang menimbulkan arel menyerupai tumpukan tanah dalam skala besar dan juga menimbulkan bekas galian yang menyerupai Danau besar, yang jelas SEMAKIN PARAH apak kata mereka hanya penguasa yang mampu berkata sedangkan masyarakat hanya mampu meratap. Suatu ketika secara pelan tapi pasti Desa ULUDAYA akan mengalami musibah longsor secara besar-besaran. Hai Para PENAMBANG SADARLAH BAHWA ANAK KAMPUNG SENDIRI AKAN MENGHANCURKAN MASA DEPAN KAMPUNGNYA. Ditambah ladi semua pihak yang berkepentingan seakan tidak memperdulikannya. Sebagai saran, saya ajak para LSM yang independen agar dapat memantau lokasi tambang batubara di Desa ULUDAYA dan seterusnya di publikasikan, tapi awas jangan sampai ikut juga jadi pemain. Masya Allah Selamatkan Desaku ULUDAYA

  17. pourti mallahaOct 9, 2010 at 2:08 am

    sungguh memprihatinkan…… rakyat kecil menjerit sementara pemanbangnya semakin arogan karna sudah memiliki apa yang di inginkan… tapi percuma saja berkoar-koar toh tdk ada yang berani menghalanginya PANG SATE kan RAJAnya mallawa

  18. taumauOct 18, 2010 at 9:44 am

    kena deh…. sebagian penambang batu bara mallawa kini gigit jari… sejak minggu kemarin mereka di datangi petugas kepolisian, menurut info aktivitas mereka saat ini di stop, dan semua alatnya di segel……. aha… itu memang pantas mereka dapatkan…. syukurin,,,, syukurin

  19. gue broOct 21, 2010 at 10:23 am

    alhamdulillah…..mungkin itulah jalan Allah yang terbaik!!! amien… amien

  20. anak tattungkengOct 22, 2010 at 6:52 am

    mallawa… mallawa… maju terus mallawa..

  21. vaOct 25, 2010 at 2:21 pm

    alhamdulillah……….

  22. vaOct 25, 2010 at 2:22 pm

    parah ya mallawa skrng…..

  23. ardititanium Putra pangserSep 9, 2012 at 4:42 pm

    Pertambangan batu bara kini Pindah Lokasi di Dusun Pangisoreng, Desa yg terletak setelah Dusun tattumpung..

    Silahkan anda coba datang k sna untk menyaksikan pertambangan……..

Flash News
Terbitan Terbaru !
Serum #5 - Cover

Serum #5 - Mei 2013