Kontinum.org – Jurnal Antiotoritarian Online

Teks

MEMBANGUN KONSENSUS DAN GRUP-GRUP NONHIRARKIS

May 12, 2010 by in Artikel, Berita with 6 Comments

Catatan dari “Workshop Fasilitasi untuk Grup-grup Affiniti”
Makassar, 8 Mei 2010

Berbasis konsensus, struktur nonhirarkis, dan mengadopsi kesetaraan yang radikal, adalah prasyarat sebuah grup atau pun organisasi revolusioner antiotoritarian. Namun seringkali prinsip-prinsip tersebut hanyalah slogan kosong belaka. Banyak kelompok, grup maupun organisasi anarkis/antiotoritarian tanpa ataupun dengan sengaja mengabsenkan praktek-praktek prinsipil ini.

Kita bisa melihat dalam proses-proses berupa diskusi politik, pengambilan keputusan, maupun aktifitas harian lainnya, penempatan individu dengan karakternya masing-masing seringkali terabaikan. Tidak heran, kendati mengusung visi berbeda, banyak kelompok-kelompok antiotoritarian, dalam prakteknya tetap mengadopsi karakter-karakter Kiri yang sangat otoritarian.

Jika konsensus merupakan hal penting yang menjadi tulang punggung bagaimana menjaga sebuah gerakan tetap bersifat antiotoritarian, maka pertanyaannya bagaimana mendorong sebuah pertemuan, diskusi, rapat-rapat, dan proses pengambilan keputusan di grup-grup affiniti dan antiotoritarian lainnya tetap bersifat konsensual?

Itulah kebutuhan grup-grup antiotoritarian lokal untuk mendorong bagaimana proses-proses pertemuan, pengambilan keputusan, rapat-rapat politis, dan lainnya tetap mengedepankan konsensus sebagai kerangka utama. Juga bagaimana proses-proses diskusi, kelas-kelas tematik, aktifitas belajar bersama, ataupun training dan skill sharing dapat berjalan tanpa terjebak dalam proses otoritarian.

Ini tentu saja membutuhkan peran-peran yang membantu dan memastikan bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang setara dalam kelompok atau dalam proses-proses aktifitas gerakan antiotoritarian. Workshop Memfasilitasi Untuk Grup-grup Affiniti adalah sebuah respon atas kebutuh tersebut.

Workshop ini adalah skill sharing, sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tujuannya lebih pada memperkenalkan metode memfasilitasi yang radikal dengan prinsip konsensual dan egalitarian sebagai alternative atas proses-proses tradisional yang mengedepankan prinsip menang-kalah.

Seringkali di sebuah forum atau pertemuan, terjadi perdebatan yang sangat sengit. Kondisi psikis yang muncul lebih memihak siapa yang paling kuat berargumentasi. Argumentasi tidak selalu berdasar pada benar atau tidaknya yang disampaikan, tetapi juga pada kuat tidaknya seseorang untuk menekan lawan bicara, dominasi ruang dan waktu dan bahkan intimidasi. Belum lagi senioritas, gap pengetahuan, maupun intrik yang sering muncul utamanya dalam kelompok-kelompok Kiri.

Menjadi antiotoritarian berarti melampaui semua itu, termasuk juga mengidealkan sebuah pertemuan, pengambilan keputusan, bahkan aktifitas-aktifitas lain yang melibatkan beberapa orang seperti diskusi, belajar bersama.

Untuk tidak sekedar menyalahkan kondisi yang ada, workshop ini menawarkan metode memfasilitasi untuk grup-grup affiniti maupun organisasi antiotoritarian. Di luar Indonesia, menggunakan fasilitator untuk pertemuan-pertemuan dan pengambilan keputusan secara konsensus sudah menjadi kebiasaan yang jamak. Fasilitator yang bisa diambil dari lingkar internal grup, maupun dari kawan lain, juga dapat membantu sebuah kelompok dalam melakukan proses-proses yang melibatkan beberapa orang.

Dalam workshop atau skill sharing yang dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2010 ini, seorang fasilitator memfasilitasi proses ini. Di sesi pertama dimulai dengan memperkenalkan seperti apa itu proses fasilitasi, dan bagaimana perbedaan dengan metode-metode konvensional? Juga didiskusikan apa fungsinya dalam pembangunan gerakan antiotoritarian. Diskusi ini lebih banyak mengeksplorasi bagaimana menyeimbangkan proses agar dominasi beberapa orang bisa diminimalisir, serta partisipasi orang-orang yang pasif bisa distimulasi.

Sesi selanjutnya adalah mempelajari beberapa skill-skill dasar dari memfasilitasi. Sesi ini terbagi dalam dua poin, yakni Teknik Verbal yang fokus pada apa yang dikatakan, serta Teknik Non-Verbal, yakni apa yang dilakukan.

Karena merupakan workshop pengantar, poin-poin yang dipelajari masih sebatas tentang bertanya, membangun analisa dengan segitiga pertanyaan, juga teknik-teknik probing dan parafrase. Workshop sehari ini dilakukan dengan cara simulasi, diskusi dan permainan.

Di akhir workshop, sepiring gorengan menjadi santapan bersama sambil berdiskusi mengenai penerapan metode-metode dasar dalam aktifitas gerakan seperti pertemuan dan diskusi.

Tagged ,

Related Posts

6 Comments

  1. Maharak TatiyatMay 31, 2010 at 1:57 pm

    Apakah terbuka untuk umum? Bisa tahu tempatnya yang lebih tepat. Makassar kan besar? Dan aku kira aku tidak bisa bertanya tentang itu pada semua orang di Makassar, hehehe….. Siapa tahu bisa datang. Manado-Makassar mestinya cukup dekat untuk kesempatan seperti ini.

  2. kontinumJun 3, 2010 at 4:08 amAuthor

    Kawan Maharak, workshop ini telah dilangsungkan tanggal 8 Mei 2010 lalu -liat tanggalnya kan? pada awalnya ini cuman in-house workshop, bareng dengan Lingkar STudi Antiotoritarian. Tapi memang ada rencana untuk bikin kegiatan serupa lagi. Kalau mau info lanjutan tentang jadwal ke depan, silahkan kirim email ke

  3. kontinumJun 12, 2010 at 11:33 pmAuthor

    reportase workshop yang ditulis oleh teman2 Lingkar Studi Antiotoritarian, silahkan klik :

    http://lingkarstudiantiotoritarian.blogspot.com/2010_05_01_archive.html

  4. dioJul 24, 2010 at 12:23 pm

    ujungnya kayak lsm juga… juga gerilyawan sesaat yang nyerang semau-maunya…

  5. mahesa djenarJul 26, 2010 at 12:41 pm

    ehem ehem. numpang komen. banyak orang yang bertindak dalam kemauannya sendiri, menetapkan sesuatu yang radikal namun untuk orang lain yang tidak radikal. memaksa anti terhadap otoritarian dan anti terhadapa kapitalisme, namun tanpa penjelasan yang sepadan untuk kapasitas komunitas yang sedang dituju. lihat saja bagaimana seorang aktivis mengusahakan untuk mengubah sistem negara namun menanamkannya pada sebuah struktur yang sangat awam. semua mesti berjalan apa adanya tanpa kepalsuan meski sangat tidak radikal, biarkan semuanya berjalan tanpa titik balik, tinggalkan tindakan tontonan dan menuju kondisi tanpa titik balik. semuanya berawal dari kesederhanaan menuju ke sesuatu yang radikal dan penuh kesadaran. untuk dio yang berkomentar dengan blak-blakan dan nyerang semau-maunya

  6. Alisa Dita NaimpianJul 27, 2010 at 10:52 am

    Tak perlu reaksioner menanggapi asumsi pendek yang tidak jelas juga landasannya apa..yang pasti web ini mengapresiasi segala pendapat dan kritik, yang baiknya jika yang berpendapat bisa menyertakan alas pikirnya dalam bentuk apa saja yang bisa didiskusikan..

    Kalau ada LSM yang jadi gerilyawan nyerang semaunya, wah menarik tu..kayanya saya pingin ngikut di situ saja..

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Call For Papers – Jurnal Kontinum
Tulisan Terbaru
Flash News
Terbitan Terkini !