Reportase Posts

Karena Sewa Adalah Pencurian

Karena Sewa Adalah Pencurian

Catatan Tentang Squatting (Perambahan)

Haris 

 

Squatting atau merambah adalah suatu tindakan, aksi menempati properti kosong secara liar, tanpa menyewa atau meminta izin dari pemilik properti tersebut. Para perambah (squatter) meyakini bahwa tempat tinggal maupun perumahan merupakan kebutuhan dasar bagi semua orang. Kebutuhan dasar manusia akan tempat tinggal seperti tanah dan rumah telah disulap menjadi properti. Semua barang terhomogenisasi menjadi komoditi. Barang publik menjadi privat. Relasi-relasi sosial seakan menemukan identitasnya sendiri menjadi sebuah hubungan yang berdasarkan atas uang dan komoditi semata. Karenanya, biaya sewa adalah pencurian dalam kehidupan harian. Hukum sewa-menyewa eksis untuk melindungi pemilik properti dan bukan penghuni!

Perambah liar menempati tanah atau bangunan kosong untuk memenuhi salah satu kebutuhan hidup. Bagi mereka, jauh lebih berharga ketika sebidang tanah dijadikan perumahan bebas. Ini adalah pemikiran radikal, anti-tesis atas penggunaan properti sebagai ladang mencari untung. (more…)

Yang Dimabuk Dunia

Yang Dimabuk Dunia

Ishmael Yahalah & Burhan May Lee

 

Dengan tidak menyadari posisinya di dunia, orang-orang tidak punya kebutuhan untuk memperbaiki kehidupannya.

Gemericik hujan di sore itu kalah ramai oleh riuh puluhan perempuan yang menyeruak keluar dari gerbang sebuah pabrik. Jam menunjukkan pukul 5 sore, para perempuan itu tiba-tiba saja meluap di bibir jalan, berbicara dan bersenda gurau satu sama lain, terkadang diselingi tawa sembari berjalan menuju simpang jalan.  Mereka adalah buruh pabrik PT NCT, sebuah perusahaan eksportir ikan laut di Makassar. (more…)

MENGAIS PASIR DI POJOK AMBISI

Di sebuah anjungan pinggiran pantai, matahari menantang garang di langit yang berselimut karbon dioksida. Seberang jalan raya, beberapa alat berat sedang bekerja mengeruk dan menimbun, asap hitam keluar dari cerobongnya, bercampur debu dari truk-truk raksasa pengakut pasir timbunan. Sebuah megaproyek bertitel Centre point of Indonesia (CPI) sedang digarap. Kawasan yang ditasbih menjadi “landmark” Sulawesi Selatan ini rencananya akan dibangun di atas luasan 200 hektar dengan investasi triliunan rupiah.

Dari atas pagar pipa-pipa besi terlihat seorang perempuan menekurkan kepala yang dibungkus topi pandan serta tubuh dibalut busana sederhana sedang sibuk mencari kerang di laut yang tercemar sampah organik dan sampah plastik. Nenek yang kelihatan masih cukup sehat itu akan segera menyelesaikan pekerjaannya begitu air mulai pasang.

Zahrah Daeng Rabi, nenek dari beberapa orang cucu itu naik melalui sela anjungan retak dengan pakaian yang masih basah. Di sampingnya sebuah kaleng peyot bekas mentega, nyaris kosong dari kerang-kerang kecil yang beberapa waktu lalu masih melimpah di tempat tersebut. Di antara botol bekas air kemasan yang berserakan, kami berbincang singkat dengannya.

Sudah berapa lama ibu mencari kerang?
Sudah lama, mungkin sepuluh tahun lebih.

(sambil merapikan peralatan pengais pasir berupa sebuah besi pipih berujung lancip menyerupai tombak ke dalam sebuah karung, tidak lupa gabus 1×1 m berbentuk segiempat yang biasanya digunakan menampung kerang sebelum dimasukkan ke dalam kaleng bekas mentega.

Dari mana saja para pencari kerang di pantai ini?
Biasanya datang dari Bonto duri, bonto rannu, rajawali, nuri.

Apakah anda memiliki pekerjaan lain selain mencari kerang?
Tidak ada. Ini satu-satunya sumber penghidupan saya.

Kebutuhan sehari-hari dari hasil pencarian kerang ini?
Iya. Saya tinggal sendiri. Penjualan kerang ini saya gunakan untuk membeli beras, kopi dan rokok.

Berapa orang yang biasanya mencari kerang di tempat ini?
Sudah sedikit, tinggal 50 orang, dulu sampai ratusan. Sekarang dalam kelompokku cuma lima orang, perempuan semua.

Apakah ibu mengetahui apa yang akan dibangun di area ini?
Tidak tahu persis. Tapi yang jelas seluruh tempat ini akan segera ditimbun.

(ia membetulkan letak topi pandan agar sedikit melindunginya dari terik matahari. Dari dalam buntelan kecil, ia mencari-cari sesuatu, ternyata sebungkus rokok kretek. Diambilnya satu batang, kemudian dinyalakannya. Barangkali untuk mengusir penat.

Sebentar lagi gedung-gedung pencakar langit hasil tawar-menawar investor dan pemerintah lokal akan segera menggeser ratusan pencari kerang yang menggantungkan hidupnya selama puluhan tahun pada pesisir pantai losari.

Dan tak sedikitpun perempuan berumur lebih dari setengah abad ini mengetahui bahwa sebentar lagi tempat ini akan berubah menjadi kawasan pusat bisnis dan perkantoran, hotel transit, masjid mewah, lapangan golf, mall, restoran, hotel dan infrastruktur mono rel dan jembatan layang. Sebuah proyek ambisius pemerintah daerah makasar yang menimbun wilayah pesisir untuk mengundang para cukong dan pebisnis besar.

Sudah berapa lama penimbunan ini dilaksanakan?
Saya kurang ingat, mungkin 3 atau 4 bulan yang lalu.

Apakah penimbunan ini mengurangi areal mencari kerang?
Ya. Dulunya, tempat cari kerang luas sekali sampai di sana (sambil menunjuk ke arah sebuah jembatan diujung lain pantai) , tapi sekarang makin sempit setelah penimbunan.

Apakah sebelum dan setelah penimbunan ada perbedaan hasil tangkapan?
Ya, ada. Sewaktu belum ditimbun bisa 5 sampai 6 kaleng mentega ukuran 3 kilogram, sekarang cuma 1-2 kaleng.

Berapa harga kerang ini?
Dua kaleng kerang lima belas ribu rupiah, juga tergantung pada banyaknya kerang yang kami peroleh. Ketika banyak hasil tangkapan, biasanya harga turun.

Apakah dalam keputusan pembangunan ini melibatkan masyarakat?
Tidak, tidak ada pembicaraan dengan pencari kerang kalau pantai ini mau ditimbun.

Ada ganti rugi dari penghilangan mata pencaharian ibu?
Ada isu yang beredar tentang janji ganti rugi, tapi tidak jelas.

Antara sesama pencari kerang pernah membicarakan tentang pembangunan ini?
Kami semua bertemu saat di laut, tidak ada pembicaraan khusus mengenai ini.

Ibu pernah memprotes pembangunan ini?
Pernah. Kami demonstrasi ke tol km 4. Disuruh pimpinan organisasi.

(mengucap permisi dalam bahasa makassar karena akan segera ke tempat penjualan kerang kemudian bergegas pulang. Satu hal baru saja kusadari, ternyata sedari tadi nenek ini menyapa kami dengan sapaan ‘nak’. Sebuah sapaan yang sangat teduh di tengah cuek sosial orang-orang perkotaan, terlebih lagi pada orang yang baru saja dia kenal. Namun sebelum kami benar-benar beranjak dari tempat itu,  satu  pertanyaan terakhir terlontar begitu saja).

Kalau sudah tidak diperbolehkan mencari kerang, apa yang akan ibu lakukan?
Mencari pekerjaan lain, teman-teman kebanyakan beralih menjadi buruh bangunan. Dalam umur saya yang sudah tua, sudah tidak mungkin mencari pekerjaan bagus, saya akan beralih menjadi pencari botol atau plastik bekas.

(terhenyak).

Pembangunan (penguasa menggantinya dengan semantik investasi) telah membius publik dengan janji kesejahteraan dan lapangan pekerjaan. Sebuah ironi melihat yang sebaliknya bahwa investasi hanya menguntungkan segelintir elit politik dan investor, sementara orang miskin semakin terdesak. Perampasan ruang publik akibat rakusnya kapitalisme telah membuat mereka kehilangan sumber penghidupan serta memutus jalinan pertemanan sesama pencari kerang. Tepat di depan mata, proletarisasi massal yang memaksa kita menjual tenaga kerja, terus berlanjut …

8 Januari 2011

SOMBA OPU DALAM GENGGAMAN SI KUMIS LEGAM

Makassar dan sekitarnya baru saja menikmati hujan sore itu, perjalanan dengan menggunakan roda dua tua ku tak sepenat biasanya, hanya jalan berlubang yang sesekali menganggu hikmat putarannya. Selasa 11 Januari 2011, Saya dan Jo hendak ke wilayah yang dikenal dengan nama Benteng Somba Opu, public space yang berada tak terlalu jauh dari pusat kota Makassar. Benteng ini merupakan bekas peninggalan kerajaan Gowa yang babak belur setelah digempur pemerintah Hindia Belanda pada 1666-1669. Pertempuran antara penguasa feodal lokal dan ekspansi imperium Kerajaan Belanda bermuara pada kerusakan yang terbilang hebat dijamannya.

Setelah berseliweran diantara tumpukan kendaraan, kami tiba pada sebuah jembatan yang menghubungkan kompleks benteng Sompa Opu dengan jalan utama Daeng Tata, Kota Makassar. Tampak dari kejauhan terpampang spanduk putih dengan semprotan cat merah bertuliskan “Jangan coba-coba halangi pembangunan di kampung kami!” Spanduk itu bertengger pada gapura selamat datang Somba Opu. Ikatannya tampak mereggang, mungkin bobot kainnya bertambah karena air hujan yang menelisik masuk ke dalam seratnya. Memang tengah ada pembangunan di dalam kompleks benteng ini, dan rupanya warga tengah memastikan  agar proses pembangunan tetap lancar dan tidak terganggu. Setidaknya ekspresi itu diwakilkan dengan spanduk tadi. Kami pun melewatinya dan beranjak masuk ke dalam kompleks.

Sebelum sampai di lokasi sisa reruntuhan benteng, kami menikmati  barisan rumah-rumah adat dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Jalan berbalut aspal yang kadang diselingi paving block dengan banyak lubang, mengantarkan kami menemui bangunan dalam khasanah bugis Makassar tersebut. Sampai di satu titik mendekati reruntuhan benteng, tanah lapang becek yang diserbu hujan tampak jadi anomali diantara hijaunya hamparan sawah dan rerumputan. Rupanya ini adalah salah satu area pembangunan Gowa Discovery Park (GDP), sebuah proyek dengan nilai keseluruhan investasi mencapai Rp 20 milliar. Ini ditanamkan oleh Zaenal Tayeb, pemilik PT. Makassar Discovery Club.

Saya kemudian mencocokkan dengan rekaman di kepalaku soal pemberitaan media lokal tentang Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) yang diselenggarakan 15 September 2010 lalu. Dalam redaksi beritanya dengan jelas diungkapkan bahwa pertemuan yang diselenggarakan di Wisma Kalla tersebut juga dibahas soal rencana investasi GDP oleh Zaenal Tayeb. Kami pun hadir di sini, di salah satu lokasi pembangunan di antara keseluruhan lahan seluas 17 hektar, menyaksikan ‘buah manis’ hasil dari pertemuan para borjuasi lokal dan pemegang otoritas di daerah ini.

Kami berhenti sejenak di lokasi tersebut, menyaksikan dari dekat jejeran jeruji besi yang dirangkai menyerupai mangkuk terbalik. Spanduk putih kembali hadir bergelantungan di beberapa bagian ‘mangkuk besi’, namun tulisannya berbeda: Taman Burung, Yes! Rupanya deretan anyaman besi tersebut adalah kandang burung yang dipersiapkan untuk dipamerkan nantinya. Bisa terbayang banyaknya jumlah individu dan spesies yang ditangkap dan dikurung demi melayani kelihaian Zaenal melihat peluang bisnis akan laparnya mata kita akan keindahan alam. Kita akan membayar pada sesuatu yang sebenarnya setiap waktu bisa kita nikmati tanpa diantarai uang.  Apakah masyarakat kota sudah sedemikian berjaraknya dengan alam sehingga harus diobati rasa rindunya dengan kehadiran wahana artifisial? Sedemikian parah kah peradaban yang kita bangun dan jalani setiap harinya?

Sementara Jo berkeliling mengambil beberapa gambar dengan sedikit waspada dan was-was, saya bertemu dan menyepatkan ngobrol dengan salah seorang warga. Pria berkulit gelap tersebut sedang berdiri, menatap luasan di depannya ketika kuhampiri. Karena udara sedikit dingin akibat hujan yang baru saja reda, saya mengeluarkan rokok dan mengisapnya, kemudian kutawarkan ke padanya, kami pun merokok bersama dan berkenalan.

Namanya Dg. Sanre ia tinggal di desa Timbuseng, salah satu desa yang berada di dalam kompleks Somba Opu. Kemudian saya bertanya tentang spanduk yang berada di dekat jembatan dan di kandang burung tadi, ia juga tak tahu menahu siapa yang membuatnya, mungkin saja bukan dari desanya. Ketika hendak saya bertanya soal pembangunan di sini, tampak air mukanya berubah, ia tak begitu nyaman dengan perbincangan ini. Ia kembali menatap hamparan di depannya, Jo pun datang dan kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Apa yang diresahkan pria itu, mungkin saja sama dengan keresahanku tentang pembangunan yang sedang berlangsung. Ramai digunjingkan bahwa GDP akan digeser pembangunnya dari zona inti, menuju zona pengembangan. Walapun terjadi seperti itu , tetap akan ada lahan yang menjadi tumbal, diratakan dengan tanah, meskipun itu adalah ruang kehidupan masyarakat sekitar.

Cerita yang sama akan tercatat seperti halnya kisah warga Kassi-kassi yang dipaksa menyerahkan tanah dan rumahnya oleh Rizal Tandiawan. Juga warga Pandang Raya yang melakukan perang terbuka dengan polisi dan preman bayaran milik Wisan Goman. Si Zaenal Tayeb dengan kapital yang dimilikinya tentu saja akan menempuh jalan yang sama demi memuluskan investasinya. Orang-orang macam ini demikian rakusnya, hingga tak memperdulikan  hal lain selain liurnya untuk memperoleh lebih banyak keuntungan.

Tampak sekilas, pembangunan GDP akan mendatangkan banyak keuntungan bagi warga sekitar. Namun ketika keberadaan tempat atau ruang di mana tak seorang pun memilikinya sekaligus semua orang berhak atasnya seperti halnya Somba Opu ini, dipagari, dirampas dari semua orang, dan dijadikan modal awal untuk terus melipatgandakan keuntungan tentu saja akan menghadirkan banyak ekses. Ruang yang tadinya terbuka, dalam sekejap mata digantikan dengan instruksi, pengawasan, eksklusivitas dan  formalitas, ketika GDP hadir di atasnya. Selain itu, jika dianalisa lebih dalam hanya akan ada sedikit remah roti yang bisa digapai oleh warga sekitar jika megaproyek ini berdiri. GDP hanya akan menawarkan deretan pekerjaan yang menguras begitu banyak tenaga dan pikiran. Saya tidak hendak mendiskreditkan jenis pekerjaan tertentu, namun dalam konteks pasar kerja dan sistem ekonomi yang menuntut efisiensi di segala lini demi kepentingan akumulasi kapital, jenis pekerjaan ‘kotor’ menawarkan kesengsaraan dan alienasi akut bagi pekerja. Kondisi yang sangat tidak adil, di mana semestinya semua jenis pekerjaan memiliki posisi vitalnya masing-masing demi menjalankan hidup yang menyenangkan. Di samping itu, jikapun seorang pekerja yang mampu patuh dan taat dalam menjaga karirnya agar bisa melejit menuju posisi yang aman, ia pun harus harus terlebih dahulu menginjak-injak teman sejawatnya dan memastikan yang lain tetap di bawah demi mendapatkannya. Sungguh ganas sistem yang dibangun berdasarkan kompetisi.

Pertempuran masih berkobar dalam kepalaku, saat kami melewati deretan rumah-rumah diselingi pepohonan yang cukup besar. Ada yang lain dari sekedar tampakan pepohonan biasa, di lingkar batang atasnya tampak melilit tali tambang putih yang cukup besar dan menjalar ke pohon di sebelahnya. Wahana Treetop sedang dalam perampungan! Itu yang kutangkap dari suguhan yang ada di depan mataku. Katanya, bukan cuma wahana ini yang akan di bangun, masih ada waterboom yang rencananya mengisi sisi selatan Somba Opu. Nantinya ribuan meter kubik air akan digunakan untuk menjamin beroperasinya wahana ini. Volume air yang begitu besar di tengah macetnya aliran air di pipa-pipa PDAM menuju pemukiman warga bahkan di musim penghujan sekali pun.

Kami bergegas melewati deret rumah dan pohon-pohon itu, beberapa pasang mata mulai mengarah ke motorku yang sengaja berjalan lambat, belum lagi teror spanduk di depan tadi, sungguh membuatku tak nyaman untuk berlama-lama. Barisan rumah penduduk akhirnya mulai terlihat dan kubangan air ditambah jalan becek makin menyulitkan kami untuk bergegas keluar dari kompleks.

Kami mengakhri perjalanan dengan rasa kesal di dada, mengapa kami mengalah pada paranoid ini. Seakan semua orang bagaikan Agen Smith dalam film The Matriks, yang terus mengawasi dan mencurigai. Kami pun meninggalkan Somba Opu yang masih basah oleh hujan di petang itu. Ia sedang dicabik oleh keserakahan.

HILANGNYA MANUSIA POHON

Aurelia Aurita

Kontributor Jurnal Antiotoritarian Online Kontinum.org Aurelia Aurita melaporkan dari pedalaman Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Aurelia menulis bagaimana kehidupan liar suku terpencil –Suku Binggi/Bunggu, yang dikenal sebagai ‘Manusia Pohon’ ini dijinakkan dengan pembangunan, pengrumahan dan proyek-proyek modernisasi. Ini adalah catatan awal tentang tergerusnya Manusia-Manusia Pohon dan ke-liar-annya.

 

 

Suku Binggi dan Suku Bunggu adalah dua nama yang berasal dari satu rumpun yang sama. Suku Binggi adalah kelompok tertua dari rumpun ini dan merupakan cikal bakal Suku Bunggu. Barulah dalam beberapa waktu belakangan ini, setelah ramainya transmigrasi dan pemekaran daerah, Suku Bunggu muncul. Saat ini, Suku Bunggu seolah menjadi strata sosial baru yang diimani masyarakat bahwa mereka lebih beradab dari suku pendahulunya.

Suku Binggi merupakan suku terpencil di pedalaman Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Mereka hidup di kaki gunung yang sangat jauh dari keramaian, tinggal berkelompok-kelompok. Jumlah anggota suku ini cukup banyak dan mereka melakukan interaksi terbatas hanya dengan sesamanya.

Orang kota menyebutnya sebagai “manusia pohon, karena orang Binggi tinggal dan hidup di atas pohon. Mereka memilih pohon tinggi yang cocok untuk mereka tempati kemudian membangun rumah yang sederhana dari batang pohon dan dedaunan sebagai atap. Ketinggian rumah bisa sampai 15-20 meter. Karena orang Binggi merupakan petani berpindah, maka pohon yang dipilih adalah yang lokasinya dekat dengan tempat bercocok tanam.

Membutuhkan berhari-hari berjalan kaki jika ingin masuk ke tempat mereka di dalam hutan. Itu pun orang-orang Binggi sangat sulit untuk ditemui karena mereka tidak terbiasa bertemu orang lain di luar komunitasnya. Terkadang mereka langsung menghilang dan lari ke hutan bila mengetahui ada orang luar datang. Ini adalah kelebihan orang-orang Binggi yang mampu menyelinap dan menghilang di balik pohon dengan cepat. Alasan ini pula yang membuat kehidupan orang Binggi terbentengi dari dunia modern. Sehari-hari mereka melakukan barter untuk kebutuhan pokok seperti makan. Dalam banyak hal juga mereka sangat mengandalkan alam untuk dapat bertahan hidup. Pakaian yang mereka kenakan misalnya, terbuat dari kulit pohon atau tidak berpakaian sama sekali.

Sementara suku Bunggu merupakan masyarakat Binggi pedalaman yang telah banyak tersentuh kehidupan modern. Mereka mulai berinteraksi dengan orang-orang di luar sukunya dan mulai menerima kehidupan bermasyarakat dengan menetap di suatu perkampungan.

Pemerintah menamakan orang Bunggu sebagai “Suku Binggi yang dirumahkan”. Sejak tahun 2006 pemerintah merumahkan mereka dan mengajarkan menjadi masyarakat yang baik dengan mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Adanya rumah (yang berbeda dengan rumah mereka sebelumnya) inilah yang membuat kebutuhan hidup mereka bertambah karena mesti membeli banyak perkakas sebagai kelengkapan isi rumah. Dengan begitu, orang-orang Bunggu pun mengenal uang sebagai alat tukar dan pasar adalah tempatnya. Orang-orang Bunggu telah berinteraksi dengan masyarakat luar, bahkan beberapa diantara mereka mengenyam pendidikan formal. Orang Bunggu tidak lagi mengenakan kulit kayu sebagai pakaian, tetapi telah mengenal baju dan kain.

Meski sebagian orang Bunggu sudah bersedia dimukimkan, ada beberapa dari mereka yang masih menolak rumah buatan pemerintah. Alasannya cukup sederhana, mereka tidak tahan kepanasan. Rumah bantuan itu terbuat dari papan dengan atap seng. Sedangkan kebiasaan mereka tinggal di rumah yang terbuka dengan atap dari daun-daunan tanpa dinding atau hanya setengah.

Untuk memenuhi persyaratan representasi, dalam beberapa pertemuan dengan otoritas atau aparat pemerintah setempat, mereka sering dilibatkan khususnya untuk mewakili masyarakat adat atau Binggi pedalaman. Mereka juga dilibatkan dalam beberapa program pemerintah maupun proyek non-pemerintah (LSM/NGO) yang memperkenalkan budaya ‘uang duduk’. Perkenalan dengan budaya baru ini menciptakan orientasi uang (money oriented) di kalangan mereka ketika ada pihak luar yang masuk ke wilayah tersebut.

Hal ini sangat berbeda di waktu-waktu lampau, dimana orang-orang Binggi sampai mengubur uang di tanah karena mereka tidak mengenal dan tidak membutuhkan sesuatu bernama uang yang didapat dari masyarakat luar mereka.

Orang Binggi memiliki ritual khusus yang biasanya disebut pesta adat. Pesta adat ini menjadi ajang pertemuan seluruh Suku Binggi, baik yang telah hidup berbaur maupun yang masih hidup di hutan. Mereka memiliki ilmu kebal, berjalan di atas bara api dan tidak mempan dengan benda tajam.  Akan tetapi, ritual ini pun telah mulai dikomersialisasikan sebagai tontonan pariwisata.

Mungkin karena itu, kadang pula beberapa dari mereka merindukan damainya kehidupan di dalam hutan yang jauh dari masalah modern. Seperti masalah sesama manusia yang sarat banyak kepentingan dan permainan politik. Setiap beberapa bulan mereka meluangkan waktu sekira seminggu lamanya, untuk masuk ke dalam hutan dan bernostalgia dengan kehidupan liarnya.

Dengan adanya lokalisasi pemukiman, pembangunan dan segala macam proyek domestikasi yang dimulai semenjak 90-an ini, telah merubah relasi orang-orang Binggi maupun Bunggu. Proyek-proyek pembangunan dan modernisasi telah mengintervensi kehidupan liar orang-orang Binggi dan Bunggu, membunuh kehidupan tradisional mereka yang awalnya berjalan secara harmonis. ][