October 2010 Posts

I TOLOK, BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR

Catatan Editor

Sejarah Eropa khususnya Inggris abad XVIII mencatat eksistensi bandit sosial bernama Robin Hood dan kelompoknya yang merampok orang-orang kaya dan para bangsawan yang hasilnya diberi dan dibagikan kepada masyarakat miskin. Eric Hobsbawm dalam Bandit Sosial (2000) menjelaskan bahwa istilah ‘bandit sosial’ kurang lebih merujuk pada para pelanggar hukum yang oleh para raja dan negara dianggap sebagai kriminal, tetapi merupakan oleh masyarakat dianggap sebagai pahlawan, pembela, penuntut balas, pejuang keadilan, bahkan mungkin pemimpin pembebasan da juga orang yang dikagumi, didukung serta dibantu. Sementara Anton Lucas (1989) menyebutkan bahwa kedudukan bandit sosial sangatlah istimewa di masyarakat, dikarenakan kebaikannya dengan merampok dan memeras orang-orang yang dianggap menindas rakyat.

Di Australia kita mengenal tentang Ned Kelly, yang kisahnya juga serupa dengan Robin. Kelly terkenal dengan topeng besinya dan pertempuran heroik melawan kekuasaan yang pada akhirnya menjemput ajalnya. Sementara itu, orang-orang Betawi menceritakan tentang legenda Si Pitung, yang menjadi musuh kompeni karena tindakannya yang menyerang pemerintah kolonial dan melindungi rakyat.

Di Makassar awal abad XX, kisah serupa ada dalam diri I Tolok Dg Magassing. Karena keberanian dan tindak tanduknya yang melegenda, dalam kosakata harian bahasa Makassar, kita mengenal istilah ‘tolok’, ‘tolo’, yang berarti jagoan, pemberani, atau pemimpin informal.

* * *

I TOLOK, BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR
Resensi Buku Tentang Sejarah Perlawanan I Tolok Dg Magassing

 

 

 

Judul Buku : BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR, JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DG MAGASSING
Penulis : M. Nafsar Palallo
Penerbit : Rahyan Intermedia, Makassar
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xi + 129 hlm
Peresensi : Johan Sitorus

 

“… iya karaeng tossitagalaka Balandaya, tumpinawangi balandaya, antisirikai parana tau, kodi ateka nabajikanggi karaeng kualle barang-barangna, nakutumbang masigina, nakugesara langgarana, nakutuddu rimbuna. Nasaba taenaja nakke pattujungku karaeng lanaganti, lakupakangreangi ribija pammanakakungku nikanaya doe sipiring.”

… bagi mereka yang mendukung dan bekerjasama dengan penjajah Belanda, tidak menjaga sirik sesama manusia, yang berhati jahat, maka akan kurampas harta bendanya, kurobohkan mesjidnya, kuhancurkan langgarnya, kuterjang pondoknya. Sebab tiada maksudku mendapat pujian dari raja atau memberi makan keluargaku dengan uang mereka. Tak ingin aku dinilai dengan sepiring nasi … ! (I Tolok Dg Maggasing)

Sulawesi termasuk pulau yang terus bergolak sepanjang pendudukan kolonial zaman Belanda. Mereka menjulukinya de onrust eiland atau ‘pulau keonaran’. Ekspedisi militer pada tahun 1905 menyebabkan peralihan kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal ke tangan Hindia Belanda.

Pembiayaan pelaksanaan pemerintahan kolonial dilakukan dengan cara mengambilalih tanah dari tangan para bangsawan. Secara eksploitatif kekuasaan kolonial kemudian menguras sektor perkebunan dan pertanian. Ini bisa dilihat dengan hadirnya ratusan pabrik gula mengubah pengolahan tanah dari sistem feodal ke arah yang kapitalistik. Rakyat yang sebelumnya hanya melayani kaum bangsawan kini juga harus melayani kebutuhan deru mesin pabrik yang eksploitatif. Hal ini memicu konflik antara rakyat melawan kekuasaan Belanda. Salah satunya mengambil bentuk perbanditan, spontan, tidak terorganisir, tidak terarah, sporadis dan tidak memiliki rencana secara formal.

Munculnya berbagai kelompok-kelompok bandit tersebut disikapi pemerintah kolonial dengan mengerahkan kekuatan militer, yang didasari pada anggapan bahwa karakter masyarakat di daerah ini hanya dapat diperintah dan dikuasai dengan kekuatan senjata.

Strategi ini bukannya menyurutkan perlawanan malah menimbulkan resistensi yang semakin meningkat terhadap pemerintahan kolonial. Penghadangan dan perampokan uang dan harta kompeni dan orang-orang kaya marak terjadi,  adapun hasil perampokan berupa uang atau yang bisa dijadikan uang dibagi-bagikan kepada rakyat kecil yang sangat membutuhkan. Namun banyak juga kelompok yang melakukan perampokan bukan membagikan hasil rampokan tetapi hanya memperkaya diri sendiri. Dan melakukan aksi perampokan dengan tidak pandang bulu.

Gerakan perbanditan yang dimaksudkan dalam buku ini menunjuk pada tindakan yang dilakukan dengan sengaja bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Gerakan rakyat yang muncul dari bawah sebagai ledakan keresahan sosial dan politik saat itu. Suatu bentuk perlawanan penuh kekerasan dengan cara melakukan perampokan, pemerasan serta penyerangan terhadap pihak-pihak musuh atau orang-orang yang bekerjasama dengan musuh. Hal ini untuk membedakannya dengan tindakan perampokan yang dilakukan sebagai mata pencaharian, perampokan yang dilakukan oleh orang-orang yang jenuh dan bosan terhadap keberadaannya atau anak-anak muda yang mencoba menunjukan keberanian dan ketangkasannya.

Salah satu diantara gerakan perlawanan tersebut adalah gerakan yang dipimpin oleh  I Tolok Dg Maggasing pada kurun waktu 1914-1917.  Wilayah pengaruhnya meliputi seluruh Afdeeling Makassar, yang terdiri atas bekas kerajaan Gowa, Takalar, Jeneponto dan sebagian Maros.

Berawal dari perampokan skala kecil dengan kelompok yang beranggotakan enam sampai delapan orang, gerakan I Tolok berkembang menjadi gerakan masyarakat kelas bawah yang melibatkan ratusan orang yang bergerak secara acak dan tak terdeteksi. Sekembali dari aksi perampokan, gerombolan I Tolok kembali ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur menjadi rakyat biasa. Jikapun memilih bersembunyi, masyarakat sekitar akan melindungi mereka dengan tidak memberitahukan informasi apapun pada polisi kolonial yang mencarinya.

Puncak pergolakan sosial terjadi pada tahun 1916 yang mengarahkan penyerangan ke pos-pos pajak pemerintah dan rumah pejabat-pejabat pemerintah bumiputra yang bekerjasama dengan belanda.

Gerakan I Tolok berdampak pada terjadinya huru hara sosial yang terjadi memberi suntikan semangat  bagi perlawanan rakyat dalam menentang kekuasaan hindia belanda. Berbagai tindakan miiliter untuk menumpas gerakan I Tolok mengeluarkan biaya yang tidak sedikit termasuk perlengkapan persenjataan dan pembuatan rel kereta api sepanjang 40 Km untuk menghindari hadangan I Tolok dan gerombolannya. Penghadangan dan perampokan yang dilakukan oleh I Tolok menimbulkan keresahan bagi mereka yang menikmati hasil penjajahan termasuk pejabat dan orang-orang kaya. Pembiayaan pelaksanaan pemerintahan kolonial juga jadi terganggu akibat perampokan pada pos-pos pajak.

Perang lokal akibat ketidakpuasan atas kondisi sosial  seperti yang pernah dilakukan oleh para gerombolan I Tolok seharusnya bergerak ke arah yang akan membawa kita ke perang kelas global. Semenjak kapitalisme telah menancapkan kukunya ke seantero dunia, maka perlawanan terhadap tirani ekonomi ini juga harus mencapai skala internasional. Salah satu contoh paling maju saat ini adalah ketika kaum adat Indian di Meksiko yang menamakan diri mereka Zapatista melancarkan serangan pada malam diberlakukannya NAFTA 1 Januari 1994. Alih-alih terjebak dalam pandangan sempit kesukuan, mereka malah secara terbuka melancarkan perang melawan negara dan kapital dengan senjata dan komunike-komunikenya.

Sistem ini saling berkait satu sama lain, maka perjuangan sekecil apapun akan berdampak pada keseluruhan sistem, di manapun ia mengambil tempat. Tanpa kesadaran untuk meruntuhkan tatanan sosial yang eksis saat ini, maka gerakan dengan mudah terjebak pada hal-hal yang memalukan.

Ini pula yang terjadi pada gerakan I Tolok dan komplotannya yang melawan penjajahan kolonial tapi tidak menegasikan tatanan masyarakat feodal seperti sebelumnya. Para bangsawan yang kalah perang melawan kolonial berangsur-angsur kehilangan hak otonomi dan otoritasnya dalam struktur kekuasaan yang baru. Mereka memanfaatkan banyak aksi perampokan ini untuk kembali ke tampuk kekuasaan. Hal yang menjadi kritik bagi pergerakan para bandit dari Makassar.

I Tolok Daeng Maggasing terbunuh dalam sebuah drama pengkhianatan. Mayatnya dipertontonkan kepada rakyat di tanah kelahirannya dan daerah sekitar untuk mematahkan semangat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun semangat dan kegigihannya menjadi personifikasi bagi perjuangan menentang penjajahan dan ketidakadilan sosial. Bahkan nama I Tolok kemudian menjadi satu kata khusus dalam bahasa Bugis dan Makassar : tolo’ yang berarti “jagoan”!

KAUM MUDA vs NEGARA

Protes Anti-Pemerintah di Makassar

Senin, 18
Tanggal 18 Oktober, aksi protes pertama disulut oleh sekelompok mahasiswa di Jalan Urip Sumiharjo, salah satu poros vital yang ramai di Makassar. Aksi ini memprakondisikan aksi-aksi protes di hari berikutnya. Kabar tentang kedatangan Presiden SBY ke Makassar menjadi pemicu untuk keluar dari kampus.

Para mahasiswa menentang kedatangan Presiden Yudhoyono yang diagendakan untuk membuka pertemuan para Gubernur seluruh Indonesia di sebuah hotel mewah serta meresmikan berbagai proyek raksasa yang dimaknai sebagai ekspansi kapital di daerah ini.

Dalam protes hari Senin (18/10), mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menghentikan mobil pengangkut bahan bakar milik Pertamina, untuk digunakan sebagai podium mimbar bebas dan blokade jalan. Aksi blokade ini membuat aparat polisi bergerak membubarkan protes. Dengan cepat aksi protes yang awalnya biasa-biasa saja berubah menjadi perang jalanan.

Mahasiswa yang hanya bersenjatakan batu seadanya bertahan dari tembakan polisi yang over acting. Batu dan benda-benda keras melayang mengarah aparat. Dua buah mobil aparat yang selalu dipakai untuk membubarkan aksi-aksi mahasiswa sebelumnya, dihantam dan dirusak para pemrotes.

Para mahasiswa pemrotes terus menerus melempari pasukan bersenjata lengkap itu dengan batu yang dipungut di sekitar lokasi bentrokan. Polisi akhirnya kewalahan menghadapi energi mahasiswa dan dipukul mundur ke arah barat melintasi Universitas 45.

Di saat bersamaan mahasiswa Universitas 45 juga tengah melakukan aksi protes menentang pemerintahan SBY. Mendapatinya sebagai musuh bersama, mahasiswa 45 pun menghujani polisi dengan batu dan benda-benda keras lain. Polisi akhirnya mundur ke arah lebih jauh, hingga ke ujung timur fly over.

Meski begitu dalam kejadian ini polisi menangkap 4 mahasiswa pemrotes. Kondisi yang baru saja mereda akhirnya memicu kembali kemarahan mahasiswa.

Aksi pembalasan dilakukan dengan juga menangkap seorang polisi yang melintas di depan kampus. Polisi tersebut digiring ke dalam kampus untuk dibarter dengan empat orang kawan mereka. Kondisi ini akhirnya memaksa biroraksi kampus dan pejabat kepolisian daerah memenuhi tuntutan mahasiswa untuk melepaskan kawan mereka.

Selasa, 19 Oktober
Hari kedua protes direncanakan lebih meluas. Kabar kunjungan presiden seperti biasa disambut dengan unjuk rasa dan aksi-aksi protes lainnya. Setelah di-prakondisi-kan sehari sebelumnya, aksi protes pun pecah di berbagai titik dengan bentuk yang bervariasi.

Dua jalan utama menuju pusat Kota Makassar yang juga lokasi beberapa kampus, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Sultan Alauddin, menjadi sasaran aksi dan pemblokadean jalan. Ini jelas bertujuan untuk menghalau dan menghambat iring-iringan pejabat negara yang akan melintas.

Di Kampus Gunungsari Universitas Negeri Makassar, ratusan mahasiswa berusaha mendekati ring satu di Clarion Hotel, sebuah hotel mewah tempat berlangsungnya pertemuan antar Gubernur se-Indonesia. Aksi unjuk rasa ini awalnya bertujuan menghadang rombongan Presiden SBY untuk sekedar membentangkan spanduk yang berisi pernyataan. Petugas yang berjaga, yang terdiri dari polisi dan tentara, tidak membiarkan peserta unjuk rasa mendekat. Para mahasiswa dipaksa mundur tanpa kompromi.

Besarnya tekanan mahasiswa untuk menyatakan sikap tidak mampu dibendung oleh pimpinan-pimpinannya. Elemen-elemen radikal telah mendorong aksi normal ini berubah menjadi perang jalanan yang sungguh tidak berimbang. Mahasiswa versus polisi dan tentara.

Di Jalan Pendidikan, sebuah jalan yang tidak terlalu ramai yang berada persis di samping kampus, mahasiswa bertahan dengan batu, kayu dan bom molotov. Sementara aparat polisi dan militer menggunakan perangkat standar perang. Dalam situasi ini, mahasiswa diuntungkan oleh proyek renovasi bangunan kampus yang menyediakan suplai batu dan materi lain yang memungkinkan untuk tetap bertahan melawan aparat negara. Menyusul bentrokan ini, setidaknya 9 orang mahasiswa ditangkap, meskipun malam harinya segera dibebaskan.

Rabu, 20 Oktober
Meskipun luput dari perkiraan bahwa hari ketiga ini adalah puncak dari rangkaian protes keras di Makassar, aksi-aksi protes tetap pecah di berbagai titik dengan eskalasi yang tidak seperti sehari sebelumnya.

Di hari ketiga ini, mobilisasi dan persiapan ditujukan untuk merespon seruan umum secara nasional untuk memperingati satu tahun periode kedua pemerintahan Yudhoyono dan Budiono yang memimpin Kabinet Indonesia Bersatu. Berbagai kelompok mengorganisir demonstrasi-demonstrasi dengan angle yang sama, mengecam pemerintahan yang berkuasa.

Di Jalan Sultan Alauddin, sebuah poros menuju Makassar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah memblokade satu ruas jalan untuk menggelar mimbar bebas di depan kampus. Sementara itu di dua lokasi bentrokan hari-hari sebelumnya, yakni UNM dan UMI juga digelar aksi protes mengecam pemerintahan Yudhoyono dan kabinetnya.

Di depan kampus Universitas Hasanuddin, mahasiswa memblokade total jalan poros Perintis Kemerdekaan. Beberapa truk dipalang melintang untuk menghadang petugas dan kendaraan milik pemerintah. Saat sebuah mobil pemerintah berplat merah melintas, beberapa orang mencegatnya dan menghantam kaca depan dan belakang. Berselang beberapa waktu, kendaraan dinas pemerintah jenis pick up berwarna biru juga menjadi sasaran amukan para pemrotes. Saat kaca dan kap mobil hancur, beberapa orang kemudian membalikkannya. Selain kendaraan pemerintah, mahasiswa juga melakukan perusakan properti seperti billboard iklan dan traffic light.

Hingga sore, satu-satunya tujuan dan target mahasiswa dalam protes itu : berkonfrontasi dengan aparat negara, tidak tercapai. Polisi dan pihak keamanan lain tidak kunjung mendatangi titik aksi. Sayang sekali, mahasiswa terlalu lama pasif menunggu dan tidak aktif terhadap kendaraan operasional korporasi atau properti-properti kontrol seperti billboard dan lainnya.

Catatan Akhir
Aksi protes tiga hari berturut-turut di Makassar mesti dilihat sebagai ekspresi ketidakpuasan. Dalam beberapa hal, perang kali ini benar-benar melawan aparat negara dan negara itu sendiri, terlihat dari secara fisik dan organik serta legal formal dimana negara mempersiapkan sumberdayanya untuk mempertahankan kewibawaan pemerintahan yang sah. Meskipun ekspresi terbesar adalah pada figur pimpinan pemerintahan nasional dalam hal ini SBY dan Boediono, kita harus mengakui bahwa kemuakan masyarakat juga diarahkan pada parlemen, politisi dan elit-elit.

Ekspresi anti-kapital dalam protes selama tiga hari ini juga mencolok. Sebagaian besar kelompok mahasiswa mengetahui bahwa kunjungan Presiden ke Makassar adalah terkait agenda ekspansi kapital besar-besaran berupa peresmian proyek-proyek insfrastruktur bisnis. Sementara saat ini seluruh masyarakat dipaksa hidup dengan kondisi ekonomi dan sosial yang timpang.

Ekspresi ketidakpuasan, semenjak mahasiswa tidak lagi secara tegas berkontradiksi dengan aturan hukum seperti Undang-undang BHP yang telah dibatalkan, diarahkan ke pihak otoritas.

Dalam perkembangannya, pola perlawanan mahasiswa menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Dalam cakupan tertentu, terlihat mulai tumbuhnya desentralisasi gerakan. Memudarnya ‘kepemimpinan birokratik dan manipulatif’ adalah sebuah kemajuan, meskipun di sisi lain menunjukkan kendor dalam hal intensitas dan kualitas tekanan.

Di media massa maupun personal, tiba-tiba banyak yang muncul sebagai bijak bestari untuk sekedar mengutuk kekerasan, perusakan, blokade, dan ketidakjelasan arah aksi-aksi protes akhir-akhir ini.

Kami ingin menggarisbawahi bahwa analisa dan sorotan media massa seharusnya sudah lama dibuang ke tong sampah, disebabkan posisi politisnya yang kental. Sangat tidak fair untuk menghakimi dan menghujat metode-metode yang dibangun oleh kelompok mahasiswa ini sebagai sesuatu yang tidak menjauh dari simpati masyarakat luas, semenjak tujuan mereka bukanlah mencari simpati, tetapi justru sebaliknya secara sengaja melakukan konfrontasi dengan negara.

Dengan begitu, perjuangan mencari simpati masyarakat dikanalisasi melalui pemberitaan media massa dan opini mainstream. Ini jelas membangun keterpisahan dengan masyarakat luas.

Tentu saja, tak ada yang secara absolut benar dalam setiap kondisi, termasuk aksi-aksi vandalisme –yang meskipun kami tidak bermasalah dengan metode tersebut, tetapi kecenderungannya untuk bertransformasi menjadi sekedar fashion tentu tidak akan membawa perubahan apa-apa kecuali pemuasan hasrat individual yang temporer.

Kemiskinan visi dalam aksi-aksi protes keras seperti ini juga masih nampak yang merepresentasikan moral lama bahwa satu-satunya musuh adalah negara (dan dalam lingkup lebih sempit adalah pemerintah), sementara properti-properti korporasi masih dibiarkan aman-aman saja.

Anak muda tidak perlu harus selalu tampil ‘benar’ dan diterima, misalnya melalui aksi-aksi terpimpin yang simpatik untuk menyampaikan sikap ke pejabat pemerintahan atau talkshow di stasiun televisi dengan tampilan yang chick. Apa yang kita mesti bangun dan rawat adalah kultur perlawanan secara meluas, apapun dan bagaimanapun metode yang dipilih. Namun belum apa-apa, media massa dan segelintir orang, termasuk unsur-unsur pergerakan, lebih banyak menyalahkan anak-anak muda yang mulai terlibat dengan perlawanan, hanya karena taktik-taktik yang diusung terlalu jauh di luar batas melampaui nilai-nilai masyarakat modern. Mereka nampaknya lebih suka sebuah gerakan yang muncul dari dan karena kepemimpinan hegemonik mereka.

Oleh karenanya hujatan dan kemunafikan ini sebernanya membantu kita menganalisa bahwa ini menunjukkan ketakutan segelintir orang untuk tidak lagi didengar oleh kaum mudanya, yang menolak ikut-ikutan dalam jalur formal, normatif yang ujungnya mudah ditebak.

Para mahasiswa dan anak-anak muda juga mesti membangun dan memperkuat dirinya secara moral. Serangan kecaman dan hujatan terhadap aksi-aksi protes mahasiswa terutama yang berakhir dengan aksi-aksi kekerasan dan perusakan, bertubi-tubi datang dari otoritas, oposisi palsu, dan kelas menengah yang mapan dengan buku teks dan keistimewaannya secara sosial. Semua itu tidak perlu ditanggapi secara reaksioner, melainkan anak-anak muda mestilah berjuang untuk selalu melampaui semua yang mapan dan stagnan, termasuk segala strategi dan taktik yang diusungnya, serta mitos-mitos pergerakan.

Ya, para mahasiswa radikal dan anak muda butuh satu langkah nihilistik lagi untuk menjadi revolusioner!

[PARAKITA] #3 BIOPOLITIC & BIOPOWER

Dalam Parakita #3 ini akan dibahas mengenai konsep Biopolitic dan Biopower sebagai sebuah teknologi kontrol yang memanfaatkan tubuh dan kehidupan populasi manusia sebagai medianya. Definisi dan konseptualisasi biopolitic/biopower memiliki akar dan tendensi yang beragam, dari Michel Foucalt hingga Antonio Negri dan Michael Hardt. Perbedaan dan titik tekannya kurang lebih bertemu pada kesimpulan bahwa sebuah mekanisme kontrol terus dibangun untuk menginternalisasi kekuasaan hingga ke level paling ekstrim.

Diskusi akan diadakan pada :

  • Hari Jumat, tanggal 8 Oktober 2010
  • Jam 19:00 – 22:00

—————

PARAKITA adalah diskusi offline Kontinum, salah satu media bagi para partisipan mendiskusikan hal-hal yang menjadi landasan gerakan Kontinum.