June 2010 Posts

KAMI TIDAK SENDIRI !

Catatan dari Pekan Antiotoritarian, Sibolangit, Sumatera Utara 3-7 Juni 2010

Johan Sitorus

Udara lembab dan dingin mulai terasa seiring bertambahnya ketinggian daratan yang kami injak. Tiupan angin sepoi-sepoi dari balik Bukit Barisan seperti ucapan selamat datang pada rombongan kami di Sibolangit. Ini tak seperti kemarin, saat pertama tiba dari Makassar. Temperatur di Bandara Polonia, yang terletak di pusat kota Medan begitu panas menyengat kulit. Jaket hitam yang sering kupakai hanya mampu memberi sedikit perlindungan dari sinar ultravioletnya.

Kondisi jalan menuju perkemahan Sibolangit mengingatkanku dengan daerah Camba, sebuah jalan poros Makassar – Bone yang terkenal karena bentuknya meliuk seperti seekor ular hitam panjang. Sisi kiri dan kanan jalan ada jurang cukup dalam dengan pohon-pohon dan batu besar seolah memberi peringatan kepada setiap pengendara yang ingin melewati  jalan itu untuk selalu berhati-hati.

Berangkat bersama tim persiapan bukan hal yang mudah, sebab kami harus membawa berbagai perlengkapan untuk mempersiapkan acara, seperti tenda, spanduk, kaleng cat, dan beberapa tas carrier besar yang entah apa isinya. Beberapa dari kami harus beristirahat untuk sekedar mengambil nafas dan meletakkan sejenak barang bawaan dari punggung. Setelah menempuh satu kilometer dengan berjalan kaki, akhirnya kami tiba di lokasi kamp perkemahan Sibolangit tepat pada jam 5 sore.

Kondisi jalan yang berbatu dan beratnya barang bawaan memaksa kami untuk menempuhnya hingga 30 menit lebih. Padahal biasanya jarak tempuh ke tempat ini hanya 15 sampai 20 menit, kata seorang teman yang sering ke tempat ini. Bukit perkemahan Sibolangit merupakan sebuah dataran tinggi yang terletak di Desa Bandar Baru. Ada hutan lebat dan sungai yang mengelilinginya. Keindahan alamnya inilah yang menarik banyak orang berkunjung dan kamping di tempat ini.

Beberapa menit kemudian kami mulai mendirikan tenda untuk stand pameran, meskipun pada akhirnya tidak mampu kami rampungkan karena waktu yang sangat sempit dan kondisi malam yang gelap gulita mengharusakn pekerjaan ini  ditunda. Jam handphoneku menunjukan pukul 18:30, cuaca dingin dan kabut yang mulai turun tidak menghalangi keinginanku untuk membersihkan badan di kamar mandi dalam mess perkemahan. Setelah mandi, tubuhku menjadi lebih hangat dan segar, maka kucoba untuk membantu beberapa kawan yang sedang mengerjakan spanduk. Setelah merasa lelah aku memilih untuk beristirahat merebahkan badan di atas matras milik seorang teman dari Amerika, sambil membaca buku catatanku tentang informasi yang berhasil kukumpulkan tadi pagi. Salah satu informasi adalah mengenai tempat ini.

Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Medan – Sumatera Utara, terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Medan. Tempat diadakannya Pekan Antiotoritarian ini dapat dicapai sekitar satu jam dengan bus. Selain keindahan alamnya, cerita beberapa penduduk lokal yang saya temui mengabarkan bahwa aroma mistis akan sangat terasa ketika kita menginjakkan kaki di dalam hutan Sibolangit. Kepercayaan tentang roh halus penunggu hutan masih dipercaya banyak orang, namun seiring waktu jumlahnya makin berkurang. Penduduk lokal yang suku Batak Karo untuk tidak menebang hutan sembarangan, dan beberapa tempat yang keramat untuk dimasuki, kudapat dari beberapa teman yang memang berasal dari Medan. Benar atau tidak cerita ini biarlah tetap menjadi sebuah misteri, tapi kepercayaan melindungi dan bersinergi bersama alam, saya percaya telah dilakukan oleh suku-suku tradisional di berbagai tempat sebelum ide-ide modernis datang dan dipaksakan masuk ke dalam kehidupan mereka.

Beberapa gelas tuak Medan masuk ke lambungku, sebelum tubuh yang kurasa sangat letih ini sudah tidak bisa kompromi dan terus memaksaku segera terlelap dalam alunan mimpi. Bunyi jengkrik dan serangga malam lainnya masih samar kudengar, sebelum akhirnya mataku benar-benar tertutup.

Hari pertama, Kamis 3 Juni 2010

Suara langkah kaki dari beberapa orang yang hilir mudik di sekitar kamp akhirnya membuatku terjaga. Sudah jam sepuluh. Kuambil botol tempat air mineral lalu kubasuh mukaku seadanya. Saya kemudian berjalan ke dalam mess untuk memasak air dan membuat segelas kopi. Tanpa sengaja kulihat papan pengumuman jadwal acara, ternyata pembukaan pekan antiotoritarian dengan diskusi ‘Pengenalan Anti Otoritarian’ terpaksa  ditunda. Jadwal acara yang seharusnya dimulai pada pukul 14:00 diundur karena hujan yang terus mengguyur sejak pagi.

Beberapa kendala teknis juga menjadi penyebab diundurnya jadwal pembukaan. Perbaikan stand-stand pameran, keterlambatan peralatan masak maupun sound system turut menghambat acara hari ini. Raut kekecewaan tampak jelas pada wajah beberapa orang yang telah menunggu dari pagi. Sambil menunggu pembukaan, saya memilih membantu persiapan makan siang di dapur kolektif.

Diskusi pembuka baru dapat dilaksanakan hampir jam enam, menjelang senja. Sebelumnya, ada perkenalan antar masing-masing partisipan kegiatan ini. Oh iya, gathering kali ini melibatkan cukup banyak partisipan yang berasal baik dari kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makasar, Manado, dan tentu saja Medan, maupun dari luar Indonesia seperti Malaysia, Singapura, Filipina, AS, Australia, Polandia, Inggris, dan Swiss.

Pertemuan pertama yang berjalan cukup singkat ini menyepakati bahwa dalam setiap pengambilan keputusan senantiasa dilakukan secara bersama melalui pertemuan yang dilakukan sebelum acara berlangsung. Mulai dari susunan acara, pembagian kerja-kerja teknis dan peran di tenda konsumsi. Kesepakatan juga meliputi sampai pada hal-hal lain seperti pembagian area tempat tidur, tempat didirikan tenda/stand pameran.

Jam delapan malam, dingin mulai mengeroyok kawasan perkemahan. Meski begitu, kuperhatikan hanya beberapa orang yang tidak memakai jaket untuk melindungi tubuhnya, dan yang lainnya harus menggunakan sarung atau selimut untuk membungkus tubuhnya agar tetap hangat. Sebentar lagi acara diskusi dan sharing dimulai. Ada beberapa kasus yang akan didiskusikan, yakni perjuangan petani Deli Serdang di Persil IV melawan PTPN II, konflik nelayan Pantai Labu, Deli Serdang serta perjuangan petani Polongbangkeng, Takalar yang juga melawan perusahaan agrikultur negara, PTPN XIV.

Sebelumnya untuk mengantar diskusi, diputar film tentang perjuangan petani dan nelayan. Namun karena daya listrik tidak mampu mengangkat beban dari LCD proyektor dan sound system, pemutaran film hanya berjalan sekitar 20 menit. Akhirnya diputuskan untuk memulai saja sesi diskusi setelah usaha untuk menghidupkan kembali peralatan nonton film mengalami jalan buntu.

Bapak Rojali atau Pak Jali, begitu dia memperkenalkan dirinya, memulai pemaparan perjuangan petani persil IV Deli Serdang. Pak Jali adalah seorang pria setengah baya yang menjadi korban saat konflik tahun 2008. Dengan dialek Batak yang kental ia bercerita tentang pembacokan yang dilakukan preman bayaran PTPN II terhadap dirinya. Akibatnya, Pak Jali harus di rawat sebulan di rumah sakit.

Pak Jali dengan lugas memaparkan kronologi perjuangan petani Deli Serdang. Tahun 1972, terjadi ‘pembebasan lahan’ (istilah yang sama sekali tidak netral) milik petani secara paksa, dengan kontrak karya penggunaan lahan selama 25 tahun. Negara mengintimidasi petani yang menolak memberikan tanahnya, dengan label/cap PKI. Tahun 1997, 25 tahun dari panjang kontrak karya, perjanjian tersebut berakhir. Artinya secara hukum petani sudah dapat mengolah dan mengklaim kepemilikan tanahnya kembali. Akan tetapi, meski petani secara hukum sudah menang hingga tingkat Mahkamah Agung, tanah mereka belum dikembalikan dan PTPN II tetap menguasainya.

Logika kapitalisme tidak berakhir begitu saja, walaupun secara legal lahan pertanian yang telah berubah menjadi kebun sawit dimiliki warga. Malahan, PTPN II kembali mengajukan perpanjangan kontrak karya. Tentu saja ini langsung ditolak oleh petani. Perjuangan merebut kembali tanah mereka dilakukan dengan sabotase pada tahun 1999 yang menyebabkan beberapa warga menjadi korban. Aksi petani terus berlanjut dan kembali pecah pada tahun 2008 dan kembali menelan korban jiwa. Hal ini masih terus berlanjut sampai sekarang. Petani berhadapan dengan kekejaman negara menggunakan militer dan preman bayaran. Kudengar suara terbata-bata Pak Jali menceritakan tentang korban yang banyak jatuh dari pihak petani saat aksi langsung merebut lahan mereka.

Seorang teman yang menjadi moderator diskusi sesi ini kemudian mempersilahkan Pak Utul, nelayan Pantai Labu untuk menceritakan kisahnya. Perawakannya hampir sama dengan Pak Jali selain kulitnya yang sedikit lebih hitam karena terbakar sinar matahari. Setelah memperkenalkan diri, Pak Utul mulai bercerita bahwa ada dua permasalahan yang kini dihadapi oleh nelayan Pantai Labu. Yang pertama mengenai konflik dengan perahu besar yang menggunakan pukat harimau (trawl) dan yang kedua pengerukan pasir di pantai untuk dijadikan bahan bangunan pembuatan bandara.

Beberapa saat Pak Utul terdiam, entah karena apa. Namun kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya. Pada tahun 1985 perairan Pantai Labu dipenuhi oleh kapal-kapal besar yang menggunakan trawl atau pukat harimau. Perang berlangsung pada bulan Februari 2010 dengan menggunakan batu dan molotov ke kapal-kapal besar berbendera Indonesia, dengan ABK Thailand yang dimiliki orang Malaysia yang telah mendapat back up dari pemerintah daerah setempat. Bukan hanya Desa Paluh Sibaji tempat tinggal Pak Utul yang melawan kapal-kapal besar itu, tapi juga desa-desa lain di Kacematan Beringin, Deli Serdang. Mereka membangun organisasi adat yang diberi nama PERAPI. Pak Utul menggambarkan, jika dulunya para nelayan hanya mengandalkan molotov dan batu, maka kini mereka menggunakan senjata lebih canggih untuk melawan kapal besar itu dari jarak jauh : pelontar api!

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Tidak ada komentar.

Tahun 1972, Pak Utul melanjutkan, ada rencana proyek Bandara Udara Internasional Kuala Namu sebagai pengganti Bandara Udara Polonia, Medan. Artinya, akan ada penggusuran pemukiman warga desa untuk dibanguni landasan pacu. Tak hanya itu, ancaman kembali datang di tahun 2008. Korporasi pengembang pembangunan bandara udara, PT. Lampiri melakukan pengerukan pasir tepi pantai. Ini kemudian menghancurkan ekosistem tempat mereka tinggal dan mencari penghidupan. Akibatnya, terjadi abrasi dan intrusi air laut ke perkampungan mereka.

Sesi Pak Utul berakhir. Berikutnya adalah presentasi tentang perjuangan petani Polongbangkeng, Takalar yang kisahnya serupa dengan perjuangan petani Deli Serdang. Sama-sama dirampas tanahnya, memakai kontrak karya 25 tahun dan tidak dikembalikan lagi, serta sama-sama melawan perusahaan negara, PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Presentasi ini sedikit terbantu dengan ilustrasi berupa film pergolakan petani Takalar, juga penyebaran Jurnal Kontinum dan beberapa foto serta gambar dari rangkaian kampanye mendukung petani Takalar beberapa waktu lalu (SOLFest).

Setelah presentasi kemudian sedikit diskusi dan sharing soal kasus-kasus perlawanan komunitas terhadap negara dan kapital, acara hari ini berakhir. Namun beberapa orang masih terlihat asyik diskusi dan mengobrol ringan.

Ponselku tiba-tiba berdering. Kupencet tuts berwarna hijau di bawah layarnya. Oh, telepon dari seorang teman di Makasar yang menanyakan kabar dan kegiatan hari ini. Saya pun menceritakan tentang kegiatan hari ini, agar informasi ke teman-teman di Makassar dapat terus up to date. Tak lupa saya juga menanyakan kabar beberapa teman di sana. Hampir setengah jam kami berbicara lewat telepon.

Lalu … tit… tit… tit… Bunyi telepon ditutup dari seberang sana.

Kuisap bagian akhir dari rokok yang kulinting sendiri, sambil menghembuskan asapnya ke udara. Di potongan botol bekas yang sekarang telah menjadi asbak, rokok itu kumatikan. Sesaat kemudian aku sudah berada di depan laptop seorang teman, untuk mengirim beberapa foto kegiatan hari ini ke teman-teman di Makassar.

Waktu menunjukan pukul 03:00 dini hari. Kulangkahkan kakiku menuju kamar di dalam mess. Kulihat masih ada yang kosong. Tas ranselku kupakai menyangga kepala. Kegelapan malam dan rasa kantuk membuatku bisa cepat tertidur.

Hari kedua, Jumat 4 Juni 2010

Tim yang mempersiapkan makanan telah aktif sejak pagi. Jam 10:00 hidangan nasi goreng dan teh hangat telah tersaji di atas sebuah meja besar yang terletak di pintu masuk mess.

Satu jam berikutnya, di bawah sinar matahari cukup panas, dilangsungkan workshop perbaikan sepeda. Workshop yang dibawakan oleh seorang mahasiswa Amerika yang tengah kuliah di Jogja ini, hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Ada satu penjelasan darinya yang cukup menarik buatku, yakni bagaimana dia mendapat skill memperbaiki sepeda. Kolektifnya di Amerika Serikat menjadikan perbaikan sepeda sebagai salah satu alat untuk mengkampanyekan pemikiran-pemikiran anarkis dan antiotoritarian. Di Amerika Serikat mayoritas anak muda di lingkungannya memilih menggunakan sepeda untuk melakukan aktifitasnya. Jadi, cukup mudah untuk mengkampanyekan ide-idenya lewat sekedar diskusi kecil atau membagi-bagikan selebaran. Barangkali itulah mengapa di bajunya terdapat gambar sepeda di bagian tengah logo circle A. Namun lebih dari itu juga, hal ini mengajarkanku bahwa metode pengorganisiran harus memperhitungkan kondisi lingkungan sekitar, tidak sekedar meng-copy metode yang sudah ada sebelumnya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi ‘Mengapa Kapitalisme Menyebalkan’. Seorang teman yang bermukim di Jogjakarta menjadi pembicara. Diskusi ini mengulas tentang asal mula peradaban sampai kapitalisme muncul, kemudian mengulitinya dengan beberapa teori ekonomi klasik dan berlanjut dengan analisis-analisis mengenai alienasi dan pabrik sosial.

Di awal diskusi cukup banyak yang ikut, namun ditengah diskusi sampai akhir diskusi peserta hanya tinggal beberapa orang. Padahal diskusi tentang kapitalisme ini menurutku adalah salah satu bagian penting dalam gathering yang berlabel “pekan antiotoritarian”.

Setelah diskusi, dilanjutkan dengan workshop membuat topeng dan boneka. Topeng dan boneka adalah alat untuk meramaikan demonstrasi dan keperluan lain. Yang mengisi workshop ini adalah berasal dari Taiwan, dengan kacamata minus yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia belajar dari temannya yang kuliah di fakultas seni di Taiwan. Ketika kuceritakan pengalamanku ikut demostrasi yang monoton dan membosankan, sambil tertawa dia menganjurkan untuk memakai boneka-boneka dan topeng yang dia buat agar demonstrasi jadi lebih semarak. Betul juga pikirku…

Jam menunjukkan pukul depalan malam. Saatnya lanjutan sesi berbagi pengalaman perjuangan petani pesisir pantai selatan Kulon Progo yang melawan pertambangan bijih besi, juga perjuangan warga Sangir dan Pinolosian Timur Sulawesi utara, serta lanjutan diskusi petani persil IV yang dihadiri oleh enam petani perempuan yang terlibat langsung dalam perjuangan tersebut.

Perjuangan petani Kulon Progo dipaparkan oleh Mas Widodo, akrab dipanggil Mas Wid, pria berambut gondrong yang gemar menghisap rokok dan berguyonan dalam bahasa Jawa. Pertambangan bijih besi oleh PT. Jogja Magasa Iron yang dimiliki oleh putri Sultan Hamengkubuwono X berkolaborasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, papar Mas Wid, berambisi besar mengeksploitasi jutaan ton besi tiap tahunnya dari pasir pantai dalam industri tambang besi. Awalnya daerah pertanian di Kulon Progo adalah daerah yang gersang. Petani kemudian menemukan cara bertani yang efektif di daerah tersebut, yakni berupa holtikultura atau umbi-umbian. Hal ini akhirnya menjadikan tanah wilayah tersebut menjadi subur. Belakangan tercium bahwa kesuburannya itu karena kandungan bijih besinya yang melimpah.

Petani menolak rencana tambang besi karena akan merusak tanah pertanian mereka. Ini kemudian mendapatkan reaksi berupa pembakaran pos-pos siskamling warga oleh preman bayaran. Teror itu bertujuan menakut-nakuti warga agar kemudian menerima pertambangan. Represi dari preman yang didukung aparat ini pada video yang diputar pada sesi diskusi ini.

Sampai sekarang petani Kulon Progo masih terus berjuang secara mandiri. Mereka tidak melibatkan LSM yang selalu mencoba masuk tapi ditolak oleh warga. Sebuah langkah yang sangat tepat kupikir, mengingat sebab sebagian besar perjuangan yang melibatkan LSM biasanya berakhir dengan kompromi dan rekuperasi.

Dengan detail Mas Wid memaparkan, pihak penambang memberi tawaran ganti rugi tanah dan janji reklamasi setelah besi dari pasir pantai dihabisi. Lantas, mereka akan menggusur lahan dan pemukiman penduduk dalam luas areal eksploitasi sebesar 2897 ha (dalam Kontrak Karya Penambangan), atau kira-kira lebarnya 1.8 KM dengan panjang 22 KM dan kedalaman 14 m !

Setelah Mas Wid selesai, seorang kawan dari Manado berbagi tentang perjuangan warga Sangir dan Pinolosian timur Sulawesi Utara. Bermula di tahun 2004, saat itu pantai di Kampung Tidore, Tahuna, Kabupaten Sangir ditanggul. Pembangunan tanggul di pantai jelas saja menghilangkan tempat berlabuh perahu nelayan. Tiga tahun berselang, jalan di pinggir pantai dibuka, saat itu pemerintah menjanjikan warga sekitar dapat berjualan di pinggir jalan jika kawasan tersebut ramai nantinya. Tahun 2009, datanglah satu developer memancang patok beton setinggi 9o centimeter yang berjarak 8 meter ke rumah warga. Akhirnya warga mulai hilang kesabaran, aksi protes dimulai. Pemerintah dan perusahaan mengajak berdialog, tetapi warga menolak. Aksi warga hingga menduduki kantor DPRD menuntut penolakan pembangunan di wilayah mereka. Bulan Oktober 2009, aksi itu berakhir dengan memaksa beberapa anggota parlemen daerah untuk melihat penghancuran patok-patok beton itu.

Perjuangan warga berakhir antiklimaks. Hal ini dikarenakan penyusupan LSM ke dalam perjuangan warga, dengan maksud mengadvokasi. Tetapi hal ini justru memecah perjuangan warga. Advokasi LSM itu kemudian berhasil memoderasi dan memecah belah warga, antara yang rumahnya kena ancaman pembangunan (kena patok) dengan warga yang tidak kena ancaman langsung. Padahal pada mulanya seluruh warga kampung Sangir terlibat dalam perjuangan tersebut.

Sementara di Pinolosian Timur, lanjutnya, sebuah perusahaan tambang bernama PT. Avocet Mining mengoperasikan kawasan lingkar tambang yang mencakup 3 desa. Warga desa dipaksa menyerahkan tanahnya dengan penggantian sebesar Rp. 2,500/meter. Akhir bulan Januari 2010, warga melakukan perlawanan karena pembangunan jalan menuju tambang mengambil lahan perkebunan warga. Pos perusahaan tambang itu berhasil dibakar oleh warga. Dan akhirnya satu bulan setelahnya, aktivitas tambang berhenti karena perusahaan tersebut merugi.

Setelah kawan dari Manado, ada seorang kawan dari Filipina yang berbagi tentang perjuangan petani di tempatnya, yang harus kehilangan lahan karena undang-undang reforma agraria. Negara berusaha mengambil alih tanah petani untuk kepentingan korporasi. Para petani melakukan mogok makan selama satu bulan di kantor agraria, sebagai cara mereka melawan. Hal ini kemudian mendapatkan dukungan dari NGO serta publikasi yang gencar menjadikan pemerintah Filipina tertekan. Akhirnya dengan tekanan tersebut, negara pun melarang korporasi mengambil tanah petani.

Hal ini kemudian mendapat bantahan dari nelayan dari Pantai Labu yang sudah habis kepercayaan kepada pemerintah. Nelayan dari Pantai Labu mengatakan bahwa jangankan mogok makan selama satu bulan, berenang ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib meraka belum tentu akan mengubah keberpihakan pemerintah kepada pengusaha.

Sesi berbagi pengalaman dan cerita soal diskusi pun diakhiri dan berlanjut dengan pemaparan beberapa metode untuk menghadapi kasus-kasus pengambilan lahan oleh korporasi dan negara. Ada beberapa kendala yang cukup mengganggu sebenarnya, yakni kurangnya orang-orang yang mampu menerjemahkan kepada teman-teman yang berasal dari luar Indonesia. Ini menjadikan diskusi sedikit terhambat karena harus menunggu beberapa menit setiap kali peserta yang berbahasa Inggris memberikan pendapatnya.

Jam 4 sore, acara dilanjutkan dengan diskusi mengenai kesuburan perempuan. Ada seorang teman dari Amerika Serikat yang membawakan sesi ini. Diskusi ini memang tidak terbatas untuk dan oleh perempuan saja, karenanya tidak heran jika beberapa peserta laki-laki juga ikut serius dalam diskusi ini.

Hari ketiga, Sabtu 5 Juni 2010

Di hari ketiga ini, kegiatan dilanjutkan selepas makan siang. Dimulai dengan pertemuan seluruh peserta untuk membahas kelanjutan acara.

Sekitar jam 1 siang, beberapa orang memilih pulang lebih awal. Sesi berbagi mengenai beberapa kasus perjuangan rakyat dianggap tidak maksimal. Hal ini juga diperparah dengan hadirnya beberapa orang yang tidak berkontribusi aktif dalam kegiatan, dan malahan membuat kegaduhan yang cukup mengganggu.

Batalnya sesi live music, membuat beberapa street punk kecewa. Padahal acara itulah yang membuat mereka datang ke tempat ini. Mereka pun memilih pulang ke Medan.

Hari ketiga dimulai dengan pembukaan stand pameran, yang menggelar berbagai menu dari zine, jurnal dan media-media propaganda, kaos sablonan, poster, stiker dan beberapa lainnya. Disaat bersamaan juga digelar workshop membuat stencil, sebuah metode membuat propaganda jalanan lebih mudah, sederhana dan menarik. Ada juga workshop trashwork, yakni membuat mainan dari barang-barang bekas, juga workshop sablon. Workshop yang berlangsung bersamaan itu membuat bingung untuk menentukan ikut yang mana.

Selain itu, di stand pameran juga menampilkan beberapa kolektif yang berpartisipasi seperti InstitutA, beberapa kolektif di Medan, dan juga Kontinum. Di stand Kontinum, kami menggelar beberapa terbitan seperti Jurnal Kontinum, poster, stiker, dan materi-materi kampanye. Beberapa materi disebar secara gratis, dan beberapa lainnya hanya untuk kebutuhan display.

Malam hari, tepat pukul 8, berlangsung pemutaran film “Anak-anak Lumpur Lapindo”. Setelah film tersebut usai, berlangsung diskusi singkat yang cukup menarik, dan kemudian film berikutnya tentang pencemaran Teluk Buyat oleh Newmount Minahasa dan film mengenai Perang Dunia II, pun diputar.

Hari keempat, Minggu 6 Juni 2010

Di hari keempat, ada sesi yang sangat penting yakni ‘mengorganisir kelompok non-hirarkis’. Dalam sesi ini diawali dengan bersama-sama menganalisa perbedaan mekanisme antara sistem hirarkis dengan sistem non-hirarkis. Biasanya metode gerak kelompok non-hirarkis bekerja seperti sel yang berjejaring dari tiap-tiap grup, kolektif, affiniti dan sebagainya. Beberapa kendala biasanya didapatkan di metode ini, seperti tidak bisa dijalankan secara instan. Tetapi justru itu tantangannya, kita mesti terus mencari cara untuk menjawab kendala seperti itu tanpa mesti terjebak ke dalam pola-pola hirarkis dan otoritarian.

Setelahnya dilanjutkan dengan salah satu bagaimana cara mengambil keputusan melalui konsensus. Konsensus adalah ciri dari gerakan antiotoritarian. Workshop ini di-handle oleh dua orang peserta dari luar negeri, dimana mereka cukup sering mempraktekkan hal ini. Metodenya menarik, dibungkus dengan permainan. Permainannya adalah suit china, yakni batu, gunting dan kertas. Kemudian, dalam workshop ini batu, gunting dan kertas diganti menjadi beruang, ikan, dan batu. Peserta workshop dibagi dua kelompok, dimana masing-masing kelompok harus merundingkan apa yang akan dibawa ke garis depan, tempat bertemunya 2 kelompok. Dari workshop ini ada sebuah poin tentang bagaimana merembukkan suara secara sehat.

Lalu kemudian kelompok kembali dibagi, kali ini menjadi tiga kelompok. Sebagai simulasinya, kami akan membuat sebuah pementasan teater. Nah, kelompok harus memutuskan tentang alur cerita, peran masing-masing tokoh dan perlengkapan apa yang dibutuhkan untuk pementasan tersebut. Keputusan harus dibuat harus dibuat dalam waktu yang singkat.

Workshop konsensus ini berlangsung hingga jam enam, diiringi senja dan tepuk tangan untuk pementasan teaternya. Ternyata, keputusan bisa diambil dalam suasana yang gembira!

Setelah workshop berakhir, berikutnya dilanjutkan dengan diskusi bertema seksisme, sesuatu yang juga sering menjangkiti gerakan. Diskusi ini dibawakan seorang peserta perempuan dari Singapura. Sayangnya diskusi yang menarik itu tak sempat saya ikuti.

Malam terakhir Pekan Antiotoritarian ini diakhiri dengan sebuah ‘ritual’. Bersama-sama kami mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, kemudian duduk mengelilinginya sambil bernyanyi bersama. Semua setara tanpa memandang warna kulit, bahasa atau dari mana dia berasal. Dan tuak Medan kembali mengambil perannya sebagai penghangat tubuh dari dinginnya malam Sibolangit …

Hari kelima, senin 7 Juni 2010

Pagi-pagi kami mulai membersihkan lokasi kegiatan. Beberapa orang sibuk membongkar tenda, bambu-bambu penyangga dirubuhkan dan tenda plastik dilipat kembali, sementara sisanya membereskan peralatan lain. Di dalam mess tidak kalah sibuknya, teman-teman yang lain membersihkan lantai dan perlengkapan diiringi musik yang memekakkan telinga.

Tak kalah sibuk, di sudut lain ada beberapa teman memasak nasi goreng untuk mengganjal perut sebelum pulang ke Medan. Dan ada pula yang mengangkat barang-barang menuju mobil bak terbuka berwarna biru yang beberapa saat yang telah menunggu.

Tepat satu jam sebelum matahari tepat di atas kepala, mobil pick up yang membawa perlengkapan dan peralatan berangkat. Sementara saya dan beberapa orang berjalan kaki ke jalan poros karena muatan pick up tersebut sudah penuh. Hampir satu jam kami menunggu truck yang lewat untuk mengangkut kami. Setelah beberapa truk menolak, akhirnya ada juga yang khilaf dan bersedia memberi tumpangan J Tidak berapa lama truk mulai meluncur ke arah Medan …

Malam evaluasi

Jam satu siang, udara panas kembali terasa saat kami memasuki Medan. Untunglah sebagian barang bawaan dapat kami titip di mobil pick up untuk mengembalikan beberapa perlengkapan masak dan sound system.

Lima menit kemudian kami tiba di rumah kontrakan berukuran 7 x 10 meter, markas sebuah komunitas lokal di Medan. Lelah dan haus bercampur jadi satu. Beberapa teguk air kuharap bisa menetralisir dan memulihkan tenaga, lalu kurebahkan badan di lantai porselin berwarna putih.

Malam harinya kami mengadakan evaluasi kegiatan. Kuperhatikan satu persatu wajah teman-teman yang sedang duduk melingkar. Kurasa, mood mereka kembali bagus setelah beberapa kejadian non-teknis saat kegiatan ini digelar.

Tepat pukul delapan, evaluasi dimulai. Masing-masing mengeluarkan pendapat tentang kegiatan ini. Otokritik, evaluasi maupun kesan dalam kegiatan gathering antiotoritarian ini. Terjadi diskusi yang cukup menarik. Juga dibacakan catatan keuangan oleh seorang kawan dari Jakarta. Dari keseluruhan proses kegiatan, ternyata ada saldo tersisa. Saldo ini karena selama kegiatan berlangsung, biaya konsumsi ditanggung bersama seluruh peserta sebagai wujud bahwa kegiatan ini diorganisir bersama-sama. Diputuskan bahwa sisa uang digunakan untuk support biaya kepulangan beberapa teman dari luar daerah, dan solidaritas untuk seorang teman dari Taiwan yang kehilangan tas berisi passport dan beberapa barang lainnya di perkemahan. L

Epilog

Keganasan kapitalisme memaksa kita untuk terpisah satu sama lain, bekerja dan menghabiskan waktu untuk sekedar bertahan hidup. Bahkan setiap perjuangan pula, seperti perjuangan petani, nelayan, buruh, mahasiswa dan kelompok lain seakan-akan terpisah. Di tempat ini, semua mendapat kesempatan untuk dibicarakan bersama. Sebab memang begitulah adanya, keterpisahan yang sengaja diciptakan oleh tatanan ini untuk membuat perjuangan mempertahankan hidup kita menjadi lemah.

Sejujurnya memang, dalam kesempatan pertamanya, masih banyak kekurangan dalam Pekan Antiotoritarian ini. Sehingga terlalu naif jika mengklaim bahwa acara ini berhasil. Pembuatan stand pameran, misalnya, yang belum rampung sampai hari pembukaan tiba. Pengerjaannya pun tidak melibatkan semua peserta yang datang, hanya segelintir orang berusaha untuk merampungkanya, padahal di malam sebelumnya pembagian tugas telah disepakati bersama.

Dalam kesempatan ini, hampir tidak ada pembicaraan mengenai penguatan atau perluasan jaringan, baik jaringan lokal maupun internasional. Padahal inilah momentum yang sangat tepat karena melibatkan beberapa kelompok dan individu-individu dari berbagai tempat di Asia Tenggara dan bahkan Eropa serta Amerika.

Tidak adanya kesepahaman tentang makna dari kebebasan mempengaruhi jalannya acara. Kita bebas untuk memilih berada dalam momen atau event seperti ini, namun bertingkah semaunya hingga mengganggu acara yang berlangsung adalah hal yang menjengkelkan. Biasanya dengan dalih tidak mengikuti rapat sebelumnya, padahal sebenarnya tak ada niatan untuk menghadiri rapat-rapat yang dimaksud.

Banyak hal yang dianggap sepele, misalnya beberapa orang capek membersihkan kamp, sementara yang lain malah tetap membuang sampah sembarangan. Beberapa orang menjaga agar suasana mess tetap bersih dan nyaman, tetapi beberapa hilir mudik dengan sepatu yang mengotori.

Di tenda dapur, di luar tim konsumsi yang sementara bertugas, hanya segelintir yang bersedia membantu. Seolah-olah hanya tim itu sendirilah yang memiliki kewajiban untuk belanja dan menyediakan makan. Belum lagi yang mengambil makanan berlebihan tanpa memikirkan dan memperhitungkan teman di belakang yang juga antri menunggu giliran makan. Jangan heran, saat waktu makan banyak orang yang hadir, tapi setelahnya pergi lagi entah kemana tidak peduli bagaimana kelancutan kegiatan setelahnya. Apalagi ‘hal-hal sepele’ lain, seperti mencuci piringnya setelah makan yang telah disepakati sebelumnya. Hanya beberapa yang tetap menganggap ‘hal-hal sepele’ tersebut penting, untuk mencuci kembali piringnya agar teman lain juga bisa menggunakannya.

Soal hal-hal sepele, bahkan ada yang komplain saat rapat bersama, bahwa masalah konsumsi tidak usah dibahas terlalu lama karena itu merupakan hal yang sepele. Ingin rasanya menempeleng mulut orang itu! Urusan perut semua orang yang menyebabkan dibuatnya tim kerja untuk memasak dan belanja ke pasar secara bergiliran, dia sebut sepele. Anjrit!

Sementara itu juga, beberapa hal teknis misalnya pembuatan kamp dan stand pameran terlihat semrawut. Ini sebenarnya mencerminkan ‘ketidakdisiplinan’ dalam menjalankan apa-apa yang disepakati bersama.

Pekan antiotoritarian 2010 yang dihadiri oleh berbagai kelompok, individu dan komunitas mulai dari petani, nelayan, grup-grup anarkis dan antiotoritarian, mahasiswa dan pelajar, komunitas punk, secara umum berjalan cukup baik. Interaksi terbangun cukup kuat. Waktu pertemuan yang terbatas ini dimanfaatkan untuk berkumpul bersama orang-orang tanpa batas teritori. Betapa mudahnya pembauran satu sama lain, meski pertama kali bertemu. Tidak ada perasaan canggung, dan berusaha untuk mengenal lebih jauh teman yang berada di sekitar. Beberapa kendala bahasa tidak membuat peserta dari luar Indonesia tersisih. Beberapa bahkan tampak berusaha berkomunikasi dengan bahasa Inggris seadanya (penerjemah sangat kurang). Hanya karena saling memahamilah, maka komunikasi dapat terbangun dengan baik. Bahkan beberapa tampak bercanda dan tertawa bersama-sama. Suasana yang jarang kulihat.

Meskipun memang gathering antiotoritarian kali ini belum sempurna, paling tidak berbagai orang, kelompok dan komunitas dari beberapa belahan dunia, dapat bertatap muka secara langsung untuk saling berbagi cerita, pengetahuan, cinta, dukungan dan semangat membara. Sesuatu yang selama ini hanya bisa dilakukan lewat internet dan bentuk komunikasi jarak jauh lainnya.

Dan yang terpenting dari semua itu, kini kami sepenuhnya percaya bahwa di dalam perjuangan ini, kami tidak sendirian … !

12 juni 2010, dari kaki pegunungan Leuser, Sumatera Utara

(ps: dengan maksud tertentu, beberapa nama dalam catatan ini dianonimkan)

[PARAKITA] #2 GAGASAN FELIX GUATTARI TENTANG ORGANISASI DAN MASYARAKAT

Dalam PARAKITA #2 ini akan didiskusikan mengenai Subjected Group dan Subject-Group, salah satu gagasan utama dari Felix Guattari yang melihat posisi organisasi atau gerakan revolusioner terhadap masyarakat. Felix Guattari adalah eksponen gerakan radikal Perancis dimana teori-teorinya turut berpengaruh di balik peristiwa Mei 68.

Sebelum berkolaborasi dengan Gilles Deleuze, teori-teori psikologi dan sosial Felix Guattari telah lebih dulu memiliki implikasi politis. Salah satunya melalui kritik dahsyatnya terhadap Partai Komunis beserta seluruh ortodoksi para Marxis. Inilah yang membawanya pada konsep ‘subjected group‘ dan ‘subject-group‘, salah satu ide sentralnya mengenai organisasi dan masyarakat.

Menurut Guattari, organisasi revolusioner HARUS-lah menjadi subject-group yang mendorong proletariat agar bisa mengartikulasikan hasratnya sendiri, dan bukannya menjadi kaku, hirarkis, merasa berhak mewakili dan paling tahu akan kebutuhan dan keinginan para pekerja.

Diskusi akan diadakan pada :

  • Hari Kamis, tanggal 24 Juni 2010
  • Jam 19:00 – 22:00

—————

PARAKITA adalah diskusi offline Kontinum, salah satu media bagi para partisipan mendiskusikan hal-hal yang menjadi landasan gerakan Kontinum.

SEKOLAH BEBAS YANG MEMBEBASKAN

Judul : Summerhill School; Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Penulis : AS. Neill
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : 356 Halaman
Peresensi : Mahesa Jenar

Mengapa banyak anak yang tidak bahagia? Mengapa sampai tidak bahagia? Berapa banyak orang tua yang menyalahkan sekolah anaknya lantaran anaknya tetap tidak tahu apa-apa dan cenderung anti sosial? Apa yang menyebabkan pendidikan hari ini tidak memberikan kebahagiaan pada anak, dan malah cenderung mematikan semangat anak. Mengapa dan mengapa?

Hal tersebut merupakan sederet pertanyaan yang muncul jika kita membahas pendidikan dan sekolah hari ini. Buku yang ditulis oleh Alexander Sutherland Neil ini diadaptasi dari kehidupan sehari-hari di Summerhill School, sebuah sekolah yang didirikannya dan merupakan surga bagi dunia anak-anak: dunia bermain.

Sejak didirikan pertama kali pada tahun 1921 di kota Leiston, Suffolk, 160 kilometer dari kota London, Summerhill adalah sekolah yang dididirikan untuk menjawab permasalahan pendidikan saat itu. Summerhill bercerita tentang sekolah bebas yang dipenuhi oleh anak-anak. Ide awal pembuatan sekolah ini adalah membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukan sebaliknya membuat anak anak cocok dengan sekolah. Latar sekolah ini adalah asrama yang dipenuhi kegaduhan anak yang berlari dan bermain sehingga membuat Summerhill bak taman bermain anak ketimbang sekolah sebagaimana gambaran umum.

Summerhill memang bukan sekolah biasa, tetapi sekolah bebas dimana anak-anak bebas memilih pelajaran yang disukainya. Setiap anak bebas mengikuti pelajaran yang diinginkannya dan juga bebas untuk tidak mengikuti pelajaran. Ini bahkan bisa berlangsung hingga bertahun-tahun. Summerhill bak sebuah laboratorium sosial dimana anak-anak melakukan ekperimennya sendiri. Yah, eksperimen kataku. Melalui eksperimen ini anak-anak mengetahuai apa yang baik dan apa yang buruk dari pengalaman internal mereka sendiri. Anak-anak tidak diajakan mengenai moralitas ataupun pendidikan yang berbau indoktrinasi, namun siswa lulusan Summerhill cenderung lebih baik dibanding lulusan sekolah negeri lain pada zamannya. Mengapa? Karena siswa Summerhill memperoleh semuanya dengan eksperimen mereka sendiri tanpa ada paksaan dari luar dirinya.

Buku “Summerhill School : Pendidikan Alternatif yang Membebaskan” ini selain menceritakan mengenai kehidupan anak anak di Summerhill juga sarat dengan berbagai hal yang bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua dan guru, bahwa betapa tidak bahagianya anak di sekolah yang tidak bebas.

Tahun tahun awal berdirinya Summerhill adalah tahun tahun yang penuh dengan masalah, tidak jarang Summerhill menerima anak yang bermasalah, seperti sering mencuri, berbohong, mengumpat dan menjual properti pribadi di Summerhill.

Secara lugas AS. Neill bercerita bagaimana sulitnya menghadapi seorang anak yang telah lama diserang penyakit terkekang. Namun, lebih dari itu, masalah utama yang dihadapi AS. Neill sesungguhnya menurutnya dalam buku ini adalah bagaimana membuat orang tua sadar bahwa anaknya bukanlah robot yang mesti selalu diperintah. “Anak-anak mereka adalah manusia yang mendambakan sebuah hidup yang bebas dan bahagia”, kata Neill. Disaat anak dipaksa menjadi anak yang jujur secara langsung dia dipaksa berbohong, karena kebohongan anak-anak adalah egois, sifat egois anak-anak adalah sifat alamiah yang akan berubah menjadi sosial jika ia berjalan sesuai dengan kesadaran anak itu sendiri. Inilah kesuksesan Summerhill yaitu membuat setiap anak belajar dari dirinya sendiri dengan membebaskannya bereksperimen.

Meskipun anak-anak di Summerhill dibebaskan sebebas-bebasnya, bukan berarti Summerhill tidak punya aturan main. Di Summerhill diselenggarakan rapat mingguan, yakni rapat yang diikuti oleh semua anggota komunitas tanpa kecuali. Aturan ditentukan oleh konteks dimana aturan itu dibuat dan disusun oleh aktor yang berada di dalamnya. Rapat mingguan ini adalah rapat yang digelar untuk membahas permasalahan antar komunitas dan individu untuk membuat Summerhill menjadi sekolah yang tidak anti sosial.

“Ketidakteraturan yang teratur” mungkin adalah hal yang menggambarkan Summerhill. Setiap komunitas hidup pada aturannya masing-masing, namun tidak sering komunitas satu dengan yang lainnya cekcok diakibatkan perbedaan pandangan yang tidak bersifat moralis, seperti anak laki laki yang mengganggu anak perempuan yang sedang bermain teater, atau anak laki laki yang sering bermain perang-perangan dan mengganggu ketenangan anak yang lebih dewasa saat berekpresi di bengkel, atau yang menghilangkan dan merusak properti milik Summerhill. Namun masalah ini semua selesai di depan rapat umum yang menetapkan anggotanya semua setara, dimana setiap orang tanpa kecuali, memiliki suara yang sama.

Biasanya masalah-masalah ini bersumber dari siswa baru yang eforia menikmati kebebasan yang tidak didapatkan di sekolah lamanya. Namun seiring ia berbaur dengan komunitas ia semakin paham bahwa kebebasan akan berhubungan dengan kebebasan lainnya yang sampai pada waktunya menemukan titik imbangnya.

Nah buku yang mengangkat mengenai sebuah sekolah yang dikelola secara bebas dan membebaskan ini mestilah “menjadi referensi yang mesti ada di rak buku setiap pengajar dan orang tua”. Selamat membaca!

DELEGASI KONTINUM KE PEKAN ANTIOTORITARIAN

Kami berbahagia mengabarkan kepada kalian semua -seluruh kawan-kawan kami, bahwa delegasi Kontinum telah berada di Sibolangit, Sumatera Utara. Keberangkatan delegasi kami adalah untuk menghadiri Pekan Antiotoritarian 2010, yang digelar pada tanggal 3-6 Juni 2010.

Kegiatan ini adalah medium untuk bertemu para individu-individu dan kelompok dalam gerakan anti otoritarian di seluruh penjuru Indonesia. Meskipun begitu, banyak juga kawan dari luar Indonesia juga turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

Sepanjang empat hari kegiatan ini, banyak item-item acara yang akan digelar, mulai dari workshop hingga pemutaran film, dari diskusi hingga pertemuan-pertemuan tematik.

Delegasi Kontinum (bersama Lingkar Studi Antiotoritarian) membawa beberapa agenda ke pertemuan ini, salah satunya mengkampanyekan dan menggalang solidaritas internasional untuk perjuangan petani Polongbangkeng, Takalar melawan PTPN XIV.

JURNALISME SAMPAH

Sebuah Kritik Yang Tidak Kritikal
Poldari Kabul


Dalam sebuah pertemuan event jurnalistik di Makassar baru-baru ini, seorang aktivis pers mengomentari Jurnal Kontinum[1] sebagai contoh “jurnalisme sampah”. Mulanya setelah membaca Jurnal Kontinum #4 yang merupakan edisi khusus solidaritas kepada perjuangan petani Polongbangkeng, Takalar melawan perusahaan agrikultur negara PT Perkebunan Nusantara XIV. Edisi yang mengangkat rentang perjuangan warga, taktik-taktik aksi langsung (direct action) dan sabotase yang dikembangkan oleh petani, hingga analisa relasi industri global dan nasional dengan perampasan lahan petani, dianggap lebih pantas berada di Tamangapa[2].

Apakah Jurnal Kontinum Sebuah Karya Jurnalistik?

Dalam buku-buku panduan jurnalistik formal, sering ditulis prinsip utama karya jurnalistik berupa tidak memihak dan mesti melakukan pemberitaan secara berimbang. Poin inilah landasan kritik yang dilayangkan terhadap Jurnal Kontinum yang tidak meminta konfirmasi pihak PTPN XIV, sebagai pihak yang telah merampas tanah warga Polongbangkeng selama hampir 30 tahun.

Saya merujuk pada Noam Chomsky yang mengatakan bahwa media yang diklaim menjadi gambaran dari karya jurnalistik, sebenarnya telah tersusun rapi dari beberapa filter-filter. Filter-filter tersebut adalah pemilik media (pemilik modal), ketergantungan pada pemerintah serta pakar dan ahli, membangun korelasi dengan pengiklan, memiliki mekanisme pengontrol atau flak, dan menyebarkan mitos anti komunisme[3].

Dari sebuah gambaran diatas tentang media, timbul pertanyaan tentang “Jurnal Kontinum”. Apakah Jurnal Kontinum adalah hasil karya jurnalistik?

Kami adalah media dimana tak seorang pun yang terlibat di dalamnya, menjadi pemilik media/modal. Dalam struktur redaksi, kami menerapkan prinsip non-hirarkis yang tidak seorang pun bisa menentukan secara eksklusif kebijakan redaksional. Apa yang ditulis pun tidak pernah memuji prestasi pemerintah melalui mulut pakar dan para ahli. Alih-alih, kami lebih memilih perjuangan dan perlawanan masyarakat sebagai hal yang lebih layak kami sebar. Media massa selalu mengharapakan uang dari pengiklan, dan Kontinum memilih menjalankan swakelola dimana pendanaan (biaya produksi dan distribusi) berasal dari kolektif. Kontribusi dari partisipan adalah solusinya, bukan uang dari korporat, pemerintah dan lembaga donor. Dalam struktur yang non-hirarkis ini, kami tidak mengenal mekanisme pengontrol semacam dewan pers untuk menyetir dan menyemprit saat teks yang kami tulis keluar jalur. Kami, karenanya, adalah kontrol itu sendiri!

Sementara tentang wacana anti-Komunisme, dimana media borjuis sering gembar-gemborkan, kami memiliki argumen sendiri untuk tidak terjebak dengan kebodohan yang amat dangkal yang dimiliki para media. Jika mereka menganggap komunisme identik dengan Uni Sovyet, Partai Komunis, atau PKI dan Leninismenya, maka kedua-duanya –anti-komunisme media dan Komunisme (dengan huruf kapital), merupakan hal yang kami tolak.

Menjadi Media Propaganda

George Orwell pernah mengungkapkan perkembangan media komunitas saat terjadi perang sipil di Spanyol. Tiap kolektif dan kelompok saat itu memiliki media propagandanya masing-masing sebagai senjata dalam perang wacana –salah satu perang dalam perang sipil Spanyol. Perang sipil itu menjadi bukti perjuangan dan perlawanan masyarakat akan “hantu fasisme”.

Nah, di era modern hari ini, sering dianggap sebagai dunia dalam keadaan aman damai yang ditandai keberadaan lembaga multinasional selevel Perserikatan Bangsa-bangsa, apa yang terjadi sungguh sebaliknya. PBB yang diklaim sebagai penjaga perdamaian justru menjadi perpanjangan tangan dari negara-bangsa dengan libido perang yang hyper. Terjadi invasi besar-besaran untuk memperluas daerah perputaran modal dan melakukan eksplotasi alam yang tidak ketulungan. Lalu media massa? Mereka menutup sebelah mata permasalahan itu. ini hanya contoh kecil saja bagaimana posisi media massa sebenarnya. Mengulang penjelasan Chomsky, makin jelas bahwa media massa adalah salah satu tentakel gurita kapitalisme yang keberadaannya melengkapi negara-bangsa.

Sementara itu Subcommandante Marcos, juru bicara masyarakat adat Chiapas, Meksiko Tenggara yang dikenal dengan perjuangan Zapatista, membagi empat fase dalam Perang Dunia. Keempat fase itu adalah PD I (1917-1939), PD II (1939-1945), PD III atau lebih dikenal dengan Perang Dingin (1945-1990), dan PD IV yang mulai memuncak saat diberlakukannya North Amerika Free Trade Area (NAFTA). Perang Dunia IV kemudian ditandai dengan gerakan bersenjata petani miskin dan masyarakat adat di Chiapas dengan mendeklarasikan EZLN (Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) sebagai respon perlawanan mereka pada 1 Januari 1994.

Perang Dunia IV yang dikemukan oleh Marcos sebenarnya bersesuaian dengan Perang Kelas yang pernah ditulis oleh Marx. Dimana saat ini sumber-sumber kehidupan dikuasai oleh segelintir orang dengan konsursium bisnisn raksasa dan lembaga keuangan multinasional. Selain mengangkat senjata para insurgen Zapatista juga menyebarkan komunike-komunike. Metode menjadikan kata sebagai senjata oleh masyarakat adat meksiko telah membangkitkan solidaritas dari kaum tertindas oleh tata ekonomi pasar. Eksisnya EZLN hingga saat ini telah membuktikannya.

Kami berfikir bahwa dalam perang kelas ini, atau Perang Dunia IV menurut pembagian tersebut, posisi kami melawan siklus ekonomi dan politik otoritarian. Kami berposisi menjadi media propaganda. Perjuangan dan perlawanan terhadap kekuatan modal oleh proletariat di tingkatan lokal menjadi fokus kami. Jika saat pemberlakuan NAFTA direspon dengan pemberontakan EZLN, maka kami berharap diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dapat melahirkan EZLN-EZLN baru disini. Dan karenanya, untuk melihat itu apakah kami PERLU mengkonfirmasi pihak-pihak yang terkait dan melakukan pemberitaan berimbang, meminjam mulut pakar dan teoritisi borjuis?

Panjang umur perlawanan global!


[1] Jurnal Kontinum adalah jurnal antiotoritarian yang diproduksi secara bebas, berbentuk cetak (printed), yang diterbitkan dan dikelola oleh Kontinum, sebuah grup antikapitalis antiotoritarian yang berbasis di Makassar, Indonesia.

[2] Nama sebuah Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Makassar (ed)

[3] Chomsky menyusun tesisnya di era pasca perang dingin, untuk sekarang Komunisme bisa diperluas menjadi terorisme, antikapitalisme, anarkisme, fundamentalisme, dan anasir-anasir lain yang menyerang kepentingan borjuis yang berkuasa saat ini.